Kadin Memprediksi Pariwisata Indonesia Baru Pulih di 2023

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hotel di kampung turis Sosrowijayan, sebelah barat Jalan Malioboro yang masih tutup karena wabah corona. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    Hotel di kampung turis Sosrowijayan, sebelah barat Jalan Malioboro yang masih tutup karena wabah corona. TEMPO | Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pariwisata, Kosmian Pudjiadi mengatakan sektor pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak akibat pandemi Covid-19.

    Pulihnya pariwisata, kata Kosmian itu tergantung dengan vaksin antivirus corona (Covid-19) ditemukan. "Dari beberapa proyeksi terutama World Bank diperkirakan pulih recover baru satu setengah tahun setelah vaksin (ditemukan), yaitu di tahun 2023 . Jadi kita masih ada tiga tahun untuk terus bertahan," kata dia saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi X DPR-RI, Selasa, 14 Juli 2020.

    Kosmian mengatakan, pemulihan industri pariwisata di Indonesia juga sangat bergantung pada penurunan jumlah kasus baru orang terjangkit virus corona. Selain itu, pencabutan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di suatu daerah juga ikut mempengaruhi.

    Industri pariwisata Indonesia, kata dia, juga sangat tergantung pada kebijakan negara lain yang mengizinkan warganya agar bisa berkunjung ke Tanah Air. "Semua bergantung pada kapan negara lain berani mengizinkan warganya berkunjung ke Indonesia, terutama kapan penggunaan vaksin virus" tuturnya.

    Kosmian menjelaskan, untuk pemulihan di sektor pariwisata bergantung pula pada tata cara penanggulangan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Saat ini, ucap dia, cara yang digunakan dengan mengandalkan uji singkat atau rapid test biasa untuk melakukan screening, lalu menggunakan  tes PCR
    (polymerase chain reaction) belum bisa meyakinkan seseorang berlibur dengan aman.

    Selain itu, pemulihan di sektor ini juga bergantung pada stimulus kepada pariwisata.

    Demi bisa bertahan, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI mengusulkan untuk mendapatkan bantuan modal kerja kepada pemerintah senilai Rp 21,3 triliun. Sehingga pihaknya dapat beroperasi kembali saat new normal atau adaptasi kebiasaan baru.

    "Kami ketemu angka Rp 21,3 triliun untuk modal kerja selama enam bulan yang dibutuhkan dengan asumsi mereka mengalami modal kerja yang sama sekali habis," kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani pada kesempatan yang sama.

    Hariyadi mengatakan, bantuan modal kerja tersebut akan disalurkan untuk hotel sebanyak 715 ribu kamar dan 17.862 unit restoran. Kualifikasi penerima bantuan modal ini yaitu pengusaha yang sudah tidak memiliki cadangan modal untuk kembali melanjutkan usaha.

    "Jadi itu perkiraannya, simulasinya demikian, ini hanya untuk gaji pegawai, listrik dan promosi di luar dari bahan baku makanan dan minuman," ucapnya.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Bansos Rp 31 Triliun untuk 13 Juta Pekerja Bergaji di Bawah Rp 5 Juta

    Airlangga Hartarto memastikan pemberian bansos untuk pekerja bergaji di bawah Rp 5 juta. Sri Mulyani mengatakan anggaran bansos hingga Rp 31 triliun.