Akhir Pekan, Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Kembali Tertekan

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai memindahkan uang rupiah di cash center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019. Nilai tukar rupiah terpantau menguat pada Selasa (25/6). Nilai tukar Rupiah senilai Rp 14.138 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat jika dibandingkan pada hari sebelumnya yang berada pada level Rp 14.165 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Pegawai memindahkan uang rupiah di cash center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019. Nilai tukar rupiah terpantau menguat pada Selasa (25/6). Nilai tukar Rupiah senilai Rp 14.138 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat jika dibandingkan pada hari sebelumnya yang berada pada level Rp 14.165 per dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2020, setelah 6 hari perdagangan berturut-turut menetap di zona merah.

    Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa saat ini rupiah kembali dikelilingi sentimen negatif, salah satunya arus dana asing yang keluar dari pasar dalam negeri.

    “Rupiah kemungkinan masih akan melemah di level Rp14.350 hingga Rp14.450 per dolar AS,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis 2 Juli 2020.

    Pasar masih khawatir terhadap kasus Covid-19 yang belum menunjukkan sinyal mereda. Dengan demikian, rupiah diyakini masih akan bertahan di zona merah.

    Namun, sebagian pasar cukup optimistis terhadap perkembangan vaksin. Apalagi terdapat kabar pengujian vaksin dari BioNTech berhasil meningkatkan imun.

    Adapun, pada penutupan perdagangan Kamis kemarin, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp14.378 per dolar AS, terkoreksi 0,67 persen atau 95 poin. Kinerja itu menjadikan rupiah menetap di zona merah untuk enam hari perdagangan berturut-turut.

    Ibrahim pun menjelaskan, dengan diapitnya sentimen negatif dan positif untuk rupiah pasar sepertinya cenderung bingung menentukan sikap, sehingga wajar kalau arus modal asing kembali mengalir ke luar pasar.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.