Awak Kabin Garuda Tak Pakai APD di Pesawat, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon pramugari Garuda berjajar mengikuti pelatihan perdana kepramugarian di Kantor Badan Diklat Sulsel, Makassar, 20 Agustus 2015. TEMPO/Fahmi Ali

    Calon pramugari Garuda berjajar mengikuti pelatihan perdana kepramugarian di Kantor Badan Diklat Sulsel, Makassar, 20 Agustus 2015. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk membeberkan alasannya tidak membekali petugas penerbangan dengan alat perlindungan diri (APD) seperti yang dikenakan oleh tenaga medis di rumah sakit. Direktur Layanan, Pengembangan Usaha, dan Teknologi Informasi Garuda Indoensia Ade R. Susardi mengatakan perusahaan sudah menetapkan standar tertentu yang aman, baik bagi awak kabin maupun penumpang.

    "Dari saat check in, kenapa enggak pakai APD seperti di rumah sakit, karena kami punya standar memakai masker dan faceshield," tutur Ade dalam rekaman suara yang diterima Tempo, Kamis, 17 Juni 2020.

    Saat ini, tutur Ade, penggunaan faceshield bagi awak kabin dilakukan untuk penerbangan ke Singapura lantaran mengikuti aturan dari otoritas penerbangan setempat. Namun, ia menjamin fasilitas tersebut akan diperluas untuk seluruh penerbangan dan modelnya pun disesuaikan dengan perkembangan fashion.

    Sementara itu terkait dengan penyajian makanan, ia memastikan seluruh awak kabin Garuda Indonesia akan mengenakan sarung tangan. Sajian yang dihidangkan kepada penumpang pun menggunakan alat-alat sekali pakai.

    "Makanan yang disediakan juga diubah, yaitu dibuka hanya oleh penumpangnya," tutur Ade. Ade mengklaim perseroan sangat memperhatikan kesehatan kedua pihak di sisi, baik awak kabin dan pilot maupun penumpang.

    Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Ridwan Djamaluddin sebelumnya mengatakan pemerintah sudah mengeluarkan berbagai regulasi terkait protokol kesehatan untuk sektor transportasi. Musababnya, diperkirakan 70-80 persen penularan Covid-19 terjadi di dalam armada, utamanya transportasi umum.

    "Pemerintah terus berusaha untuk mengurangi semaksimal mungkin potensi penularan, sambil terus membuka peluang agar roda perekonomian tetap berjalan," ucapnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.