Saham Turun 11,8 Persen Sejak Pandemi, Ini Komentar Bos Telkom

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terlemah dibandingkan dengan bursa saham di Asia hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (17/3). Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG atau Jakarta Composite Index menjadi yang terlemah dengan koreksi sebesar persen atau poin ke level 4.478,55. Kejatuhan ini menjadi yang terlemah sejak Januari 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 17 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terlemah dibandingkan dengan bursa saham di Asia hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (17/3). Hingga pukul 12.00 WIB, IHSG atau Jakarta Composite Index menjadi yang terlemah dengan koreksi sebesar persen atau poin ke level 4.478,55. Kejatuhan ini menjadi yang terlemah sejak Januari 2016. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga saham PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) (Persero) Tbk melorot sebesar 11,8 persen selama pandemi virus corona berlangsung. Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah menyebutkan kondisi penurunan harga saham emiten berkode TLKM itu telah terjadi sejak awal tahun.

    "Namun dibandingkan dengan saham perusahaan telekomunikasi yang lain, penurunan harga saham telekomunikasi masih bagus," ujar Ririek dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Selasa, 5 Mei 2020.

    Berdasarkan data yang dipaparkan Ririek, penurunan harga saham perusahaan telekomunikasi se-Asia Pasifik paling dalam dialami oleh China Unocom. Harga saham perusahaan itu menurun hingga 31,74 persen. Kemudian, disusul Singtel dengan penurunan 16,91 persen; China Telcom 15,63 persen; dan Telestra 13,84 persen.

    Adapun Telkom berada di posisi keenam dalam data tersebut. Sedangkan penurunan harga saham telekomunikasi terendah dialami Softbank sebesar 2,59 persen dan Chunghwa 0,45 persen.

    Sementara itu, bila dibandingkan dengan indeks harga saham gabungan (IHSG), penurunan harga saham Telkom juga diklaim lebih baik. Ririek menjelaskan, di saat harga saham emitennya melorot 11,8 persen; posisi IHSG turun 25,1 persen.

    Ririek mengimbuhkan, kendati harga saham perusahaan menurun, bullish atau kecenderungan harga untuk bergerak naik alias menguat dialami dalam dua pekan terakhir. "Potret kedua pekan terakhir TLKM telah menunjukkan kondisi bullish 12,54 persen, yaitu pada 15-30 April," tuturnya.

    Kondisi ini juga seiring dengan kenaikan tren IHSG sebesar 1,95 persen. Di samping itu, sejak April 2020, kapitalisasi pasar Telkom naik satu peringkat di pasar Bursa Efek Indonesia menjadi nomor dua setelah BCA. "Kapitalisasi market TLKM 6,4 persen," tuturnya.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.