Sektor Keuangan Irasional, Sri Mulyani: Modal Asing 120 T Keluar

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Tempo/Tony Hartawan

    Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membeberkan modal asing yang tercatat dalam aset surat berharga negara (SBN) keluar sebesar Rp 120 triliun sepanjang Maret 2020. Keluarnya modal asing ini merupakan respons terhadap penyebaran virus Corona.

    "Maret kemarin sangat menantang. Kepanikan akibat pandemi telah menyebabkan irasional di sektor keuangan," ujar Sri Mulyani dalam paparannya secara virtual kepada Komisi IV, Kamis, 30 April 2020.

    Adapun mengacu pada data IMF, Sri Mulyai menerangkan arus modal keluar dari aset negera-negara berkembang mencapai US$ 100 miliar. Angka tersebut setara dengan 0,4 persen dari total pendapatan produk domestik bruto (PDB).

    Sri Mulyani mengungkapkan, kondisi tersebut menyebabkan adanya koreksi sangat dalam pada pasar saham karena adanya capital outflow yang besar. Situasi ini juga mendorong nilai tukar jeblok dan naiknya indeks dolar sebesar 4 persen, sehingga Bank Indonesia harus mengambil sejumlah langkah untuk mengantisipasinya.

    Di saat yang sama, kondisi tersebut menyebabkan harga emas naik hingga mencapai 14 persen. Sri Mulyani mengungkapkan, dampak penyebaran virus Corona memukul ekonomi lebih dalam ketimbang krisis 2008.

    "Karena virus Corona ini menyerang kesehatan dulu, baru menyerang ke sosial, ekonomi, dan keuangan. Sedangkan dampak 2008 kita konsentrasinya ke sektor ekonomi yang terdampak," ujar Sri Mulyani.

    Adapun berdasarkan data global, total kerugian ekonomi akibat disrupsi global mencapai US$ 9 triliun sepanjang 2020-2021. Nilai kerugian ini setara dengan total PDB dua negara maju, yakni Jerman dan Jepang. Sedangkan harga minyak mentah jatuh hingga 70 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.