BI Perkirakan Pembiayaan Defisit Fiskal Capai Rp 1.400 T

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan sambutan dalam konferensi internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-13 di Bali, Kamis, 29 Agustus 2019. Istimewa

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan sambutan dalam konferensi internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-13 di Bali, Kamis, 29 Agustus 2019. Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia memperkirakan pembiayaan defisit fiskal untuk mengatasi wabah Covid-19 mencapai sekitar Rp 1.400 triliun.

    “Hitung-hitungan kasar kami, karena pemerintah punya angka-angka, untuk pembiayaan defisit fiskal itu kurang lebih sekitar Rp 1.400 triliun,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam keterangan pers daring di Jakarta, Rabu, 29 April 2020.

    Gubernur BI merinci dari total perkiraan tersebut, sekitar Rp 500 triliun di antaranya akan dipenuhi dari saldo kas pemerintah baik yang ada di BI dan perbankan.

    Selain itu, kata dia, juga dari dana pemerintah di Badan Layanan Umum (BLU), program pinjaman Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Dunia, serta penerbitan obligasi dalam bentuk valuta asing.

    Sisanya yakni sekitar Rp 900 triliun dikurangi anggaran yang sudah dialokasikan untuk tambahan belanja penanganan Covid-19 yakni total sebesar Rp 225 triliun yang terdiri dari kesehatan Rp 75 triliun, jaring pengaman sosial Rp 110 triliun dan dukungan dunia usaha dan industri Rp 70 triliun.

    “Dari Rp 900 triliun itu sudah dikeluarkan Rp 225 triliun sehingga menjadi Rp 675 triliun,” katanya.

    Perry menuturkan dari Rp 675 triliun tersebut di antaranya akan dianggarkan untuk pemulihan ekonomi sebesar Rp 150 triliun namun untuk pemulihan ekonomi ini akan dipenuhi dengan mekanisme tersendiri dan belum tentu melalui pasar.

    Kemudian, sekitar Rp 100 triliun lainnya akan dipenuhi dari kebijakan BI yang menurunkan giro wajib minimum (GWM) sebesar dua persen sebagai bentuk kelonggaran kuantitatif atau quantitative easing (QE) kepada perbankan.

    Nantinya, dengan QE itu perbankan wajib membeli SBN yang diterbitkan pemerintah untuk lelang tahap ketiga yakni melalui private placement sehingga pemerintah akan mendapatkan dana sekitar Rp 100 triliun.

    “Kalau Rp 675 triliun dikurangi Rp 150 triliun kemudian dikurangi Rp 100 triliun, itu kurang lebih ada Rp 425 triliun,” katanya.

    Perry lebih lanjut mengungkapkan pembiayaan defisit fiskal akan dipenuhi dari lelang yang akan dilaksanakan pemerintah hingga tutup tahun ini.

    Dari sisa lelang hingga akhir tahun ini diperkirakan akan mampu dipenuhi hingga Rp 425 triliun tersebut.

    “Kalau kami hitung sisa lelang sampai dengan akhir tahun itu, kebutuhan nanti dari lelang sebetulnya tidak kemudian melonjak tinggi. Target lelang yang diumumkan pemerintah Insya Allah cukup untuk memenuhi pembiayaan fiskal,” katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemendikbud, yang Diperhatikan Saat Murid Belajar dari Rumah

    Solusi menghambat wabah Covid-19 diantaranya adalah belajar dari rumah dengan cara menghentikan sekolah biasa dan menggantinya dengan sekolah online.