Neraca Perdagangan Surplus USD 0,74 Miliar di Tengah Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, Senin 16 Oktober 2017. TEMPO/M. Julnis Firmansyah

    Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto saat jumpa wartawan mengenai perkembangan ekspor dan impor di Gedung BPS Pusat, Jakarta Pusat, Senin 16 Oktober 2017. TEMPO/M. Julnis Firmansyah

    Tempo.Co, Jakarta - Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar US$ 0,74 miliar (month-to-month/mtm). Tak hanya itu, neraca perdagangan triwulan I (Januari sampai Maret 2020) pun masih surplus US$ 2,62 miliar.

    “Tentunya ini berita yang menggembirakan,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam konferensi pers online di Jakarta, Rabu, 15 April 2020.

    Sepanjang Maret 2020, ekspor tercatat naik tipis 0,23 persen menjadi US$ 14,0,9 miliar. Sementara, impor naik tajam sebesar 15,6 persen menjadi US$ 13,35 miliar. Jika diakumulasikan, hasilnya memang masih mengalami surplus. Meski demikian, surplus pada Maret 2020 ini sebenarnya lebih kecil dari capaian Februari 2020 yang surplus sebesar US$ 2,51 miliar.

    Sementara itu, kinerja neraca perdagangan triwulan I yang surplus sebesar US$ 2,62 miliar ini juga masih lebih baik dari tahun lalu. Pada triwulan I 2019, neraca perdagangan justru defisit US$ 0,06 miliar.

    Selain itu, surplus perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara lain juga semakin besar. Di antaranya surplus dengan Amerika Serikat dan India yang masing-masing US$ 3 miliar dan US$ 1,9 miliar. Masing-masing naik 35 persen dan 6,5 persen.

    Sebaliknya, defisit perdagangan dengan negara lain juga mengecil. Salah satunya dengan Cina yang selama ini Indonesia mengalami defisit paling besar. Triwulan I 2020, defisit perdagangan dengan Cina berkurang hampir setengahnya atau 43 persen, dari US$ 5,1 miliar menjadi US$ 2,9 miliar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.