Dokter Wafat Kena Corona, Sri Mulyani: Sebagian Praktik di Rumah

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Tempo/Tony Hartawan

    Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut menanggapi perihal 24 dokter yang meninggal akibat virus Corona atau Covid-19. Dari informasi yang didapatnya dalam sidang kabinet sebelumnya, kata Sri Mulyani, diketahui ternyata banyak dokter yang meninggal tersebut bukanlah yang berada di depan dalam menangani langsung pasien Covid-19.

    “Tapi yang praktik di rumah dan tidak tahu pasiennya adalah orang tanpa gejala, sehingga langsung kena, dokter gigi, dokter mata,” kata Sri Mulyani dalam rapat virtual bersama Komisi Keuangan DPR di Jakarta, Senin, 6 April 2020.

    Oleh karena itu, kata Sri Mulyani, pemerintah mengambil langkah dalam menghentikan penyebaran virus terhadap dokter yang melakukan praktik di rumah. Salah satunya mewajibkan mereka menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat menerima pasien.

    Sebelumnya Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi mengatakan kurangnya APD bagi dokter dan juga tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor penyebab tak sedikit dokter yang wafat terjangkit virus Corona.

    Adib mengatakan saat ini pendistribusian APD hanya terkonsentrasi di rumah sakit rujukan dan rumah sakit pemerintah. Padahal, banyak dokter di poliklinik, puskesmas, dan tempat praktik swasta yang menjadi tujuan pertama ketika pasien mengeluh sakit.

    “Ketika pasien datang ke tempat itu yang tidak ada standar APD, itu jadi risiko. APD ini juga dibutuhkan pekerja medis di frontliner seperti poliklinik, puskesmas, dan tempat praktik dokter swasta,” kata Adib seperti dikutip dari Koran Tempo edisi Senin, 6 April 2020.

    Tak hanya Abid, anggota Komisi Keuangan DPR dari Fraksi Partai Gerindra Ramson Siagian juga mempertanyakan distribusi APD ini kepada Sri Mulyani. Padahal, anggaran Rp 75 triliun sudah disiapkan, salah satunya untuk pembelian alat kesehatan seperti APD. “Seperti di puskesmas kecamatan saja, kosong,” kata dia.

    Mendengar hal tersebut, Sri Mulyani pun berjanji akan berkoordinasi dengan pihak terkait agar penyalurannya bisa lebih cepat. Dalam sidang kabinet, Sri Mulyani membenarkan bahwa bantuan APD yang sudah dikirim dari pabrik melalui TNI Polri, ternyata sampai provinsi tidak turun sampai ke puskesmas. “Jadi tadi presiden instruksikan agar gugus tugas BNPB memobilisasi lagi polisi dan TNI bawa APD sampai ke rumah sakit yang membutuhkan."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.