Kenaikan Harga Gula Bakal Perberat Inflasi Maret 2020

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga antre membeli sembako saat operasi pasar murah di Kecamatan Tegal Selatan, Tegal, Jawa Tengah, Selasa 21 Mei 2019. Pasar murah yang diadakan Pemerintah Kota Tegal menyediakan sebanyak 8.000 kantong berisi minyak, beras dan gula pasir dengan harga Rp30 ribu per kantong sebagai upaya meredam harga-harga kebutuhan pokok di pasaran yang merangkak naik jelang Lebaran mendatang. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

    Warga antre membeli sembako saat operasi pasar murah di Kecamatan Tegal Selatan, Tegal, Jawa Tengah, Selasa 21 Mei 2019. Pasar murah yang diadakan Pemerintah Kota Tegal menyediakan sebanyak 8.000 kantong berisi minyak, beras dan gula pasir dengan harga Rp30 ribu per kantong sebagai upaya meredam harga-harga kebutuhan pokok di pasaran yang merangkak naik jelang Lebaran mendatang. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memprediksi laju inflasi sepanjang bulan Maret 2020 bakal sangat terpengaruh oleh kenaikan harga makanan, khususnya barang impor. Hal ini juga terimbas oleh penyebaran virus Corona yang meningkatkan risiko inflasi makanan, khususnya yang merupakan barang impor. 

    Dalam hitungannya, inflasi pada Maret 2020 disebabkan oleh kenaikan harga emas, telur ayam, dan gula. "Indonesia adalah importir gula karena sekitar 77 persen dari permintaan domestik dipenuhi dari pasokan impor," kata Andry dalam laporannya, Selasa, 31 Maret 2020.

    Secara umum Andry memperkirakan inflasi atau indeks harga konsumen (IHK) pada Maret 2020 mencapai 0,15 persen (month to month/ mtm) atau naik dibandingkan inflasi Februari 2020 sebesar 0,28 (mtm). Angka ini sama dengan 3,02 persen (year on year/ yoy) atau naik dari Februari 2020 2,98 persen (yoy).   

    Lebih jauh Andry memperkirakan inflasi 2020 akan mencapai 3,25 persen. Capaian tersebut terbilang stabil dalam rentang target yang ditetapkan BI yaitu 2 - 4 persen.
     
    Perkiraan inflasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi 2019 sebesar 2,72 persen, menurut Andry, disebabkan oleh risiko yang lebih tinggi pada inflasi volatile food, terutama inflasi makanan. Dia menilai angka inflasi yang stabil mendukung agenda BI untuk tetap memiliki kebijakan moneter yang akomodatif sepanjang tahun ini. 
     
    Andry memprediksi BI akan mempertahankan tingkat kebijakan di 4,5 persen hingga akhir 2020 karena pertimbangan ruang untuk memangkas tingkat suku bunga sangat terbatas. "Defisit transaksi berjalan pada 2020 mungkin akan melebar menjadi 2,88 persen dari PDB atau naik dari realisasi tahun lalu sebesar 2,72 persen," ucapnya. 
     
    Badan Pusat Statistik (BPS) berencana merilis IHK Maret 2020 pada hari ini, Rabu, 1 April 2020  pukul 11:00 WIB. Rilis dilakukan melalui tayangan live di kanal YouTube Badan Pusat Statistik. 
     
    BISNIS

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.