Jokowi: Data Adalah New Oil, Bahkan Lebih Berharga dari Minyak

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersiap menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri (PM) Hongaria Viktor Orban di Istana Negara, Jakarta, Kamis 23 Januari 2020. Pembangunan ibu kota baru di Kabupaten Penajem Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur terus memancing minat investor asing. Kali ini Hongaria dikabarkan siap berinvestasi senilai USD 1 miliar pada proyek tersebut. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo bersiap menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri (PM) Hongaria Viktor Orban di Istana Negara, Jakarta, Kamis 23 Januari 2020. Pembangunan ibu kota baru di Kabupaten Penajem Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur terus memancing minat investor asing. Kali ini Hongaria dikabarkan siap berinvestasi senilai USD 1 miliar pada proyek tersebut. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan data akurat adalah kekayaan baru yang sangat berharga saat ini, bahkan nilainya bisa lebih berharga daripada minyak.

    "Data ini adalah jenis kekayaan baru. Saat ini data adalah new oil, bahkan lebih berharga dari minyak. Data yang valid menjadi salah satu kunci pembangunan," ujar Jokowi dalam acara pencanangan pelaksanaan sensus penduduk 2020 di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 24 Januari 2020.

    Menurut Presiden, data yang valid sangat dibutuhkan untuk menyusun perencanaan, anggaran, kemudian membuat kebijakan hingga mengeksekusi kebijakan tersebut untuk hasil yang efektif.

    Oleh karena itu, dia mengingatkan jajaran pejabat pemerintahan agar tidak merencanakan dan mengambil keputusan tanpa data. Terlebih, jika keputusan penting diambil hanya berdasarkan asumsi atau perasaan semata.

    Sebelum membuat keputusan, kata Jokowi, dirinya pun kerap memverifikasi data terlebih dahulu sebagai basis kebijakan. "Jangan hanya pakai feeling (perasaan). Bahaya. Bahaya sekali," katanya.

    Maka dari itu, kata dia, pemerintah mencanangkan pelaksanaan sensus penduduk pada 2020 dengan metode yang lebih akurat dan canggih. Data yang didapatkan lewat sensus penduduk 2020 akan bermanfaat sebagai basis untuk menyusun perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.

    Kepala Negara mengatakan data kependudukan yang dimiliki bisa digunakan untuk memproyeksi berbagai kemungkinan yang terjadi dalam jangka menengah dan panjang.

    Dia juga meminta partisipasi masyarakat untuk menyukseskan pelaksanaan sensus.

    Metode baru yang dimaksud Presiden pada sensus penduduk tahun ini, adalah pertama, penggunaan data dasar Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil sebagai data dasar untuk menghasilkan satu data kependudukan. Kedua, metode pendataan mandiri secara online pada 15 Februari hingga 30 Maret 2020.

    Badan Pusat Statistik (BPS) akan menyelenggarakan sensus penduduk yang ketujuh pada 2020. Sensus yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali itu bakal berbeda dengan pelaksanaan sensus pada tahun-tahun sebelumnya.

    Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan pada tahun ini, BPS menggunakan metode kombinasi (combine method) yang menggabungkan pendataan mandiri secara online pada 15 Februari hingga 30 Maret 2020 dan pendataan dari petugas yang mendatangi rumah warga (door to door) pada Juli 2020.

    Data dasar yang digunakan adalah data Adminduk sebagai data dasar untuk menghasilkan satu data kependudukan

    Ada 54 negara yang akan melakukan sensus penduduk pada 2020. Tema sensus penduduk tahun ini adalah "Mencatat Indonesia Menuju Satu Data Kependudukan untuk Indonesia Maju".

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara