Erick Thohir Sebut Gaji Menteri Kecil, Tanggung Jawab Besar

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kiri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, dan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Djakarta Theater, Ahad, 22 Desember 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Dari kiri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, dan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah di Djakarta Theater, Ahad, 22 Desember 2019. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyebutkan bahwa gaji seorang pejabat setingkat menteri hanya berkisar 19 juta. Hal itu jauh lebih kecil  dibandingkan saat ia menjadi pengusaha. 

    "Untuk gaji menteri saya rasa jauh lah, kita ini padamu negerinya luar biasa, cuma 19 juta," ujarnya saat acara Millenial Summit 2020 di kawasan Darmawangsa, Jakarta Selatan,

    Dengan gaji sebesar itu kata Erick Thohir, menteri harus mengemban tugas yang besar dalam pengambilan keputusan serta kebijakan yang sangat berpengaruh. 

    "Padahal kebijakan yang kita ambil itu jauh lebih besar dibandingkan swasta maupun dari teman-teman perusahaan BUMN," ujar Erick Thohir. 

    Ia menjelaskan, ketika menjadi pengusaha swasta pun merasa memberikan sumbangsih yang besar pula, dan lebih bebas dalam mengambil keputusan, jika dibandingkan menjadi menteri seperti saat ini.

    "(Enak mana?) Pengusaha, lebih bebas, dan tentu sebenarnya kalau bicara kontribusi masyarakat sama juga," katanya.

    Namun, Erick Thohir mengatakan, ketika menjadi menteri kebijakan yang diambil akan sangat berpengaruh kepada seluruh masyarakat. "Cuma memang yang membedakan kementerian ada kebijakan yang besar untuk impactful masyarakat," katanya.

    Erick Thohir juga awalnya merasa heran  ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral seperti Arifin Tasrif hanya diberikan fasilitas penerbangan kelas bisnis, sedangkan untuk Direktur BUMN pertambangan diberikan kelas penerbangan paling mewah. Namun hal itu harus bisa dimengerti oleh semua pihak.

    "Kebayang enggak Pak Arifin Tasrif beliau naik pesawat  di bisnis, dan Dirut Inalum di first class padahal kebijakan yang beliau ambil jauh lebih besar dari Dirut Inalum, hal-hal ini saya rasa perlu ada empati, saya rasa temen-temen di BUMN juga mengerti hal ini," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.