5 Upaya Efisiensi Bisnis Ala Garuda Indonesia

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Niaga PT Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah dalam acara Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) di Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat, Jumat, 20 Desember 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Direktur Niaga PT Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah dalam acara Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) di Kementerian Perhubungan, Jakarta Pusat, Jumat, 20 Desember 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Garuda Indonesia Tbk melakukan sejumlah efisiensi dalam operasional bisnis mereka. Efisiensi dilakukan karena ada sejumlah komponen tiket pesawat yang tidak bisa diintervensi perusahaan, salah satunya avtur.

    "Itu kan tergantung pada penjualnya (avtur)," kata Direktur Niaga Garuda Pikri Ilham Kurniansyah saat dihubungi fi Jakarta, Kamis, 26 Desember 2019.

    Sepanjang 2019 ini, persoalan mahalnya harga tiket pesawat telah berdampak pada sejumlah lini. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio misalnya, memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 16,3 juta orang tahun ini atau tidak mencapai target awal pemerintah sebanyak 18 juta. Harga tiket pesawat yang mahal disebut-sebut sebagai salah satu penyebab menurunnya jumlah turis asing ke Indonesia.

    Pikri menjelaskan sejumlah upaya efisiensi yang dilakukan perusahaannya. Pertama, efisiensi pada pembelian avtur. Misalkan untuk penerbangan Jakarta-Medan. Jika harga avtur lebih murah di Jakarta, maka pesawat akan mengisi lebih banyak avtur di Jakarta saja, ketimbang di Medan. “Karena kan di berbagai daerah, harganya beda-beda, harga juga tidak bisa kami tentukan."

    Kedua, melakukan penerbangan lebih tepat waktu alias on time. Sebab, semakin lama pesawat harus menunggu untuk terbang, akan semakin banyak bahan bakar yang terbuang.

    Ketiga yaitu berupaya mendapatkan slot terbang di titik yang lebih tinggi. Ketika titik terbang lebih tinggi, maka tekanan dari angin juga lebih kecil. Sehingga, penggunaan bahan bakar juga lebih hemat.

    Keempat menghapus beberapa bawaan untuk mengurangi beban dari pesawat. Salah satu yang direncanakan oleh Garuda Indonesia yaitu mengubah konsep majalah cetak di pesawat menjadi majalah digital. “Kalau satu majalah 800 gram, dikali 400 penumpang kan sudah jadi beban juga, ini bisa kami reduce,” ujarnya.

    Upaya terakhir yaitu pada komponen leasing. Saat ini, Garuda Indonesia terus melakukan restrukturisasi atau pembicaraan kembali dengan perusahaan tempat Garuda menyewa pesawat. Tujuannya, agar Garuda bisa mendapatkan harga yang lebih murah. “Yang lebih sesuai pasar-lah,” kata dia.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.