Penuhi Standar IMO, Pertamina Luncurkan BBM Kapal Rendah Sulfur

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petugas terlihat sedang melakukan pengecekan drum yang berisi pelumas di Depo Pertamina, Plumpang, Jakarta, (31/12). ANTARA/Prasetyo Utomo

    Seorang petugas terlihat sedang melakukan pengecekan drum yang berisi pelumas di Depo Pertamina, Plumpang, Jakarta, (31/12). ANTARA/Prasetyo Utomo

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Pertamina (Persero) meluncurkan bahan bakar kapal marine fuel oil (MFO) sulfur rendah 180 cSt (centistockes) yang diproduksi di Refinery Unit (RU) III Plaju. 

    Sesuai mandatori International Maritime Organization (IMO), bahan bakar untuk kapal maksimal hanya mengandung sulfur maksimal 0,5 persen mass by mass (m/m). Untuk memenuhi mandatori yang mulai berlaku 1 Januari 2020 itulah, Pertamina meluncurkan bahan bakar kapal (MFO) dengan kadar sulfur maksimal 0,5 persen. 

    Adapun MFO tersebut akan dilepas perdana dari Kilang Plaju sebanyak 7.000 Kiloliter (kl) melalui MT Medelin Expo menuju supply point STS Balikpapan.

    Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan RU III Plaju ini akan memproduksi MFO 180 cSt sebanyak 380.000 kl per tahun atau kurang lebih 200.000 barel per bulan. Bahan bakar tersebut didistribusikan bagi kapal-kapal berbendera Indonesia maupun selain Indonesia yang memasuki pelabuhan di wilayah perairan Indonesia.

    “Pertamina terus mengupayakan terobosan dan inovasi produk untuk mendukung program pemerintah dengan menyalurkan bahan bakar kapal sulfur rendah bagi kapal yang berlayar di perairan nasional. Kami memastikan produk minyak bakar ini sesuai terhadap ketentuan perairan internasional yang ditetapkan International Maritime Organization (IMO),” katanya dalam siaran pers, Jumat 20 Desember 2019.

    Fajriyah menambahkan penyediaan BBM ini juga sejalan dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. 29 Tahun 2014 tentang pencegahan pencemaran lingkungan maritim dikarenakan kadar sulfur pada bahan bakar kapal.

    “Selain untuk memenuhi regulasi nasional dan internasional, dengan produksi MFO Sulfur rendah 180 cSt, Kilang Plaju dapat memberikan potensi peningkatan margin pada unit operasi. Penerapan Bahan Bakar MFO sulfur rendah ini tentu juga berdampak pada pengendalian angka impor BBM sehingga diharapkan ikut mendukung stabilitas nilai rupiah dan menghemat devisa negara,” tutur Fajriyah.

    Melalui program ini, Pertamina akan terus berupaya menjamin ketahanan stok BBM ramah lingkungan di pasaran. Saat ini, produksi bahan bakar kapal MFO Sulfur rendah 180 cSt dapat dipenuhi 200.000 barel per bulan dari Pertamina RU III Plaju dan akan dilakukan optimasi kembali untuk memproduksi hingga 300.000 barel per bulan.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.