Tanggapi Edhy, Susi: Apa Kita Harus Pikirkan Petambak Vietnam?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan baru, Edhy Prabowo dan Susi Pudjiastuti dalam acara serah terima jabatan di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu, 23 Oktober 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Menteri Kelautan dan Perikanan baru, Edhy Prabowo dan Susi Pudjiastuti dalam acara serah terima jabatan di Gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu, 23 Oktober 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, JakartaSusi Pudjiastuti kembali meradang menanggapi sikap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang berkukuh mengekspor benih lobster. 

    Susi malah balik mempertanyakan Indonesia yang harus memikirkan petambak lobster Vietnam "Sehingga kita harus ekspor bibit lobster ke Vietnam ??????Terlalu bodohkah saya untuk mengertikah maksud yg dibicarakan ? ????," kata Susi seperti dikutip dari akun Twitter-nya @susipudjiastuti, Sabtu, 14 Desember 2019.

    Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Indonesia Kerja ini mengatakan lobster tidak perlu ditambak. Yang diperlukan adalah mengatur dan menjaga ukuran tangkapnya.

    Pasalnya, Susi melihat lobster di alam besar lebih cepat dan beranak pinak terus menerus berkelanjutan. "Akhirnya lobster akan terus ada dan banyak untuk kesejahteraan nelayan-nelayan penangkap," ujar Susi.

    Pernyataan Susi menanggapi Menteri Edhy yang mengambil contoh budidaya lobster di Vietnam. Edhy menyebutkan budidaya lobster sudah dilakukan di negara-negara Asia, salah satunya Vietnam.

    Di Vietnam, kata Edhy, benih lobster yang dibudidayakan bisa mencapai 70 persen. Namun pertumbuhan benih lobster untuk bertahan hidup tidak mencapai satu persen.

    Oleh karena itu, Edhy menjanjikan bila budidaya lobster seperti di Vietnam berhasil diterapkan di Tanah Air, maka lobster yang telah berkembang biak dengan sempurna bakal dilepaskan. Dari semua yang dibudi daya, lima persennya kami kembalikan lagi ke alam sekitar umur 3 bulan, 4 bulan, bahkan 5 bulan. Nanti lima persennya kami kembalikan ke alam," ucapnya.

    Sebelumnya Susi juga pernah mengkritik rencana Edhy Prabowo itu. Susi menuturkan harga seekor lobster dewasa sangat mahal. Misalnya satu kilogram biota laut yang siap santap dihargai tidak kurang dari Rp 800 ribu. "Bibitnya diambil dan dijual hanya dengan harga 30 ribu saja, berapa rugi kita," seperti dikutip dari postingan Instagramnya, Rabu lalu.

    Susi mencontohkan mahalnya satu ekor lobster mutiara dewasa berbobot 400 gram, yakni bisa mencapai Rp 1 juta. Karena itu ia menyayangkan, biota laut jenis itu hanya dihargai Rp 300 ribu di negara Vietnam. "Kita jual ke vietnam hanya 300-350 ribu," ujarnya.

    Penolakan ekspor benih lobster juga disuarakan oleh ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri. "Ekspor benih lobster dulu sudah dilarang. Sekarang mau dibuka. Sudah gila apa ini," ujar Faisal disambut gelak lirih para peserta diskusi, Selasa lalu.

    Menurut Faisal, pembukaan kembali keran ekspor bayi lobster akan berpengaruh buruk, baik terhadap iklim dagang maupun lingkungan. Ia memandang kebijakan itu bakal memberi celah mafia untuk bergerilya.

    Seumpama diberi keleluasaan untuk mengirimkan benih lobster ke luar negeri, Faisal memperkirakan mafia bakal bermunculan untuk meraup keuntungan besar. Sebab, harga beli benih lobster saat ini telah mencapai 5.000 yen per ekor.

    Adapun terhadap lingkungan, ekspor benih lobster dikhawatirkan bakal menimbulkan eksploitasi besar-besaran. "Telur-telur lobster itu rusak. Dia enggak peduli laut kita rusak lagi," ucap Faisal Basri.

    DIAS PRASONGKO | FRANSISCA CHRISTY ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Catatan Kinerja Pemerintahan, 100 Hari Jokowi - Ma'ruf Amin

    Joko Widodo dan Ma'ruf Amin telah menjalani 100 hari masa pemerintahan pada Senin, 27 Januari 2020. Berikut catatan 100 hari Jokowi - Ma'ruf...