Kemenhub Awasi Ketat Pelayanan Sriwijaya Air Pasca Pecah Kongsi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Maskapai Sriwijaya Air menunda sementara penerbangan tujuan Manokwari mulai 30 Juli. Foto: Dok. Sriwijaya Air

    Maskapai Sriwijaya Air menunda sementara penerbangan tujuan Manokwari mulai 30 Juli. Foto: Dok. Sriwijaya Air

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejak Kamis, 7 November 2019, maskapai Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia memutuskan untuk menghentikan kongsi bisnis keduanya. Menyikapi situasi terbaru itu, Kementerian Perhubungan menyatakan akan mengawasi ketat pelayanan penerbangan Sriwijaya Air untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangannya. 

    “Menteri Perhubungan telah memerintahkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk melakukan langkah-langkah pengawasan terhadap Sriwijaya Air untuk memastikan pelayanan yang diberikan tetap memenuhi aspek keselamatan dan keamanan penerbangan,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Hengki Angkasawan, di Jakarta, Sabtu 9 November 2019. 

    Hengki menjelaskan, pihak Sriwijaya Air telah berkomitmen untuk menjamin pelayanan penerbangannya tidak terganggu pascakeputusan penghentian kerja sama dengan Garuda Indonesia. Maskapai tersebut juga menegaskan tetap mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan.

    Pemerintah sendiri memberikan apresiasi kepada Sriwijaya Air yang telah melaksanakan kewajibannya terhadap sejumlah penumpang yang mengalami keterlambatan dan pembatalan penerbangan di sejumlah bandara sejak Kamis lalu. Kewajiban yang ditunaikan maskapai milik keluarga Lie itu sesuai  dengan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 89 Tahun 2015 Tentang Penanganan Keterlamatan Penerbangan (Delay Management) pada Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal di Indonesia.

    “Kami mendapatkan laporan bahwa Sriwijaya Air telah melaksanakan kewajibannya untuk memastikan seluruh penumpang yang terdampak telah mendapatkan haknya sesuai ketentuan yang berlaku. Kami akan terus memonitor perkembangannya,” kata Hengky.  

    Seperti diketahui, kemitraan Sriwijaya Air dengan Citilink, anak usaha Garuda Indonesia, dikabarkan berakhir pada Kamis. "“Kami merujuk pada status terkini kerja sama manajemen antara Sriwijaya dan Citilink, anak usaha Garuda Indonesia. Karena ada sejumlah masalah di mana kedua pihak belum bisa diselesaikan. Dengan berat hati, kami menginformasikan bahwa Sriwijaya melanjutkan bisnisnya sendiri,” kata Direktur Teknik dan Layanan Garuda Iwan Joeniarto dalam keterangannya yang beredar.

    Sebelum memutuskan benar-benar pecah kongsi, Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group menjalin kerja sama operasi seiring dengan kondisi keuangan perusahaan maskapai nasional swasta itu yang tidak mendukung. Dalam prosesnya, pada September 2019, hubungan bisnis itu mengalami guncangan yang menyebabkan susunan direksi Sriwijaya dirombak dan mengundurkan diri. Namun kerja sama dilanjutkan lagi pada Oktober lalu.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?