AFPI: Mayoritas Peminjam Fintech Peer To Peer Lending Adalah UKM

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana acara Indonesia Fintech Forum 2019 di Gedung Dhanapala, Jakarta, Rabu, 4 September 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Suasana acara Indonesia Fintech Forum 2019 di Gedung Dhanapala, Jakarta, Rabu, 4 September 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan, mayoritas peminjam financial technology (fintech) peer-to-peer lending adalah dari sektor usaha kecil dan menengah (UKM).

    "Itu kurang lebih segitu, 55 persen untuk produktif UKM borrower yang menerima manfaat," ujar Kuseryansyah di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 8 Oktober 2019.

    Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai Agustus 2019, lembaga fintech lending yang terdaftar telah menyalurkan pinjaman Rp 54,71 triliun, ini meningkat 141,40 persen secara year to date dari Desember 2018. Lalu dengan periode yang sama sudah ada 12,8 juta rekening peminjam, yang bertumbuh sampai 194 persen.

    Kuseryansyah menjelaskan, banyak dari para UKM yang meminjam uang dengan nominal ratusan ribu hingga sampai Rp 2 miliar. Uang itu biasanya dimanfaatkan untuk kelancaran usahanya, seperti usaha pulsa dan pedagang online.

    Dia menuturkan, seperti UKM yang berbasis online, para fintech dengan mudah dapat menganalisis terkait kemampuan mereka dalam melunasi pinjaman yang telah terintegrasi oleh para e-commerce. "Oh ini bagus jualan, disipilin bayarnya. transaksi per hari berapa? Per hari stabil enggak. Itu masuk dalam Tokopedia dan Bukalapak," katanya.

    Dia Kus menambahkan, dari pinjaman UKM yang besar itu masih didominasi oleh peminjam di Pulau Jawa. Selain penduduk di Jawa yang banyak, ini disebabkan juga kesadaran warga soal teknologi.

    Dia menceritakan, ketika dalam sosialisasi fintech lending, masih banyak masyarakat di luar Pulau Jawa yang belum paham mengoperasikan ponselnya untuk memasukkan permodalan dengan sistem digital. "Banyak yang sudah punya gadget android tapi mereka masih bingung bagaimana buka aplikasi fintech, yang biasanya di daerah timur sana," ungkap Kuseryansyah.

    Dia menuturkan Indonesia mempunyai tantangan mengembangkan ekonomi digital. Karena saat ini para UKM telah mempunyai banyak pilihan dalam mendapatkan pendanaan alternatif selain perbankan guna melebarkan sayap bisnisnya.

    EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.