Dapat Dana dari Shinhan, Bukalapak Tak Akan Ubah Fokus Bisnis

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana ruangan kerja kantor Bukalapak di kawasan Kemang, Jakarta, Selasa, 8 Oktober 2019. Situs e-commerce ini didirikan oleh Achmad Zaky bersama Nugroho Herucahyono dan M Fajrin Rasyid pada 10 Januari 2010. TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana ruangan kerja kantor Bukalapak di kawasan Kemang, Jakarta, Selasa, 8 Oktober 2019. Situs e-commerce ini didirikan oleh Achmad Zaky bersama Nugroho Herucahyono dan M Fajrin Rasyid pada 10 Januari 2010. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Mendapat pendanaan seri F dari Shinhan Financial Group Co asal Korea Selatan dan raksasa media Emtek, Presiden Bukalapak Fadjrin Rasyid mengatakan perusahaannya tidak akan mengubah fokus bisnis sejak berdiri Januari 2010.

    "Tidak mengubah fokus pada umumnya karena itu sudah kami persiapkan sejak lama, bagaimana kami ke arah suistainability bagaimana kami fokus kepada pelanggan, itu suatu yang terus kami lakukan," kata dia di kantornya, Jakarta Selatan, 8 Oktober 2019.

    Pendanaan dari Shinhan Financial Group dan raksasa media Emtek membuat valuasi Bukalapak meningkat sampai US$ 2,5 miliar atau Rp 35 triliun. 

    Fajrin menuturkan akan terus mengembangkan inovasi terkait dengan mitra Bukalapak. Bukalapak akan meluncurkan makin banyak produk dari segi layanan offline dan online.

    Menurutnya, walaupun perencanaan dari penggunaan dana tersebut tergantung oleh investor dan Bukalapak, hingga saat ini belum ada pembicaraan secara khusus terkait duit yang sudah digelontorkan.

    Fajrin juga belum bisa mengungkapkan terkait besaran uang yang sudah dikeluarkan para investor pada pendanaan seri F ini. "Kita enggak boleh publish unfortunately, karena mereka juga tidak ingin publish," ucapnya.

    Bukalapak, yang juga didukung oleh GIC Pte Ltd dan Ant Financial, berhasil menggalang dana sebesar US$50 juta pada penghimpunan dana bulan Januari. Dana tersebut juga berasal dari perusahaan Korea Selatan yang dipimpin oleh Mirae Asset Daewoo Co Ltd dan portal internet Naver Corp.

    Melonjaknya penggunaan smartphone dan meningkatnya pendapatan kelas menengah di negara berpenduduk 260 juta jiwa ini menjadikan industri e-commerce Indonesia sebagai medan pertempuran bagi investor asing.

    "Ekonomi internet Indonesia adalah yang paling cepat berkembang di kawasan ini dan kemungkinan bernilai US$133 miliar pada tahun 2025," tulis laporan Alphabet Inc, Temasek Holdings (private) Ltd dan konsultan bisnis global Bain & Co., yang dirilis tahun ini.

    Bukalapak sebelumnya mengatakan mereka berharap akan mencapai titik impas dalam waktu tiga tahun, melalui strategi menambah segmen produk dan memperluas cakupan di kota-kota kecil.

    Perusahaan ini menjadi unicorn dengan valuasi di atas US$1 miliar, setelah putaran penggalangan dana pada akhir 2017.

    EKO WAHYUDI | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.