Riset IHS Markit: Industri Manufaktur Semakin Memburuk

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembuatan sepatu kulit di Pusat Industri Kecil, Jakarta, 7 Mei 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada kuartal I-2018 naik sebesar 5,01 persen (year on year/yoy) disebabkan naiknya produksi industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, sebesar 18,87 persen. Tempo/Tony Hartawan

    Pembuatan sepatu kulit di Pusat Industri Kecil, Jakarta, 7 Mei 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang pada kuartal I-2018 naik sebesar 5,01 persen (year on year/yoy) disebabkan naiknya produksi industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, sebesar 18,87 persen. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Riset dari IHS Markit menunjukkan kinerja industri manufaktur per September 2019 lewat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 49,1. Angka itu naik tipis dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 49.

    Sementara indeks di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur bergerak ekspansif, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi. Dengan demikian kinerja sektor manufaktur Indonesia dinilai tidak mengalami banyak perubahan signifikan, baik produksi maupun permintaan baru dari sektor industri nasional terus menurun.

    Indeks manufaktur Indonesia pada akhir kuartal III/2019 itu menunjukkan penurunan lebih lanjut terkait kondisi kesehatan sektor tersebut. "Sektor manufaktur Indonesia mengakhiri triwulan ketiga dengan catatan lemah, dengan kondisi operasional yang memburuk selama tiga bulan berturut-turut. Baik produksi maupun permintaan baru terus menurun," demikian tertulis dalam keterangan resmi IHS Markit, Selasa, 1 Oktober 2019.

    Hal itu menyebabkan perusahaan mengurangi jumlah pekerja dan aktivitas pembelian. Dengan tekanan biaya berkurang, perusahaan memberikan diskon atas harga penjualan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

    Kepala Ekonom IHS Markit, Bernard Aw, mengatakan, data tersebut menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur Indonesia terjebak dalam situasi yang menantang pada September 2019. Indeks PMI manufaktur Indonesia mendekati posisi terendah dalam dua tahun dan menurun dalam tiga bulan berturut-turut.

    Kondisi itu pula yang menyebabkan perusahaan mengurangi perekrutan dan aktivitas pembelian. "Survei juga menunjukkan bahwa kenaikan jumlah barang jadi di tengah-tengah penurunan penjualan. Tekanan harga juga berkurang dengan biaya output turun untuk pertama kalinya hanya dalam kurun waktu tiga tahun karena perusahaan menawarkan diskon guna menaikkan penjualan," ujarnya.

    Untuk jangka pendek, Bernard Aw mengatakan sektor manufaktur nasional masih dihadapkan pada tantangan. Namun, untuk jangka panjang, prospek industri Indonesia masih positif.

    Dalam prediksinya, industri manufaktur nasional pada jangka pendek cenderung suram. "Prospek jangka panjang masih bertahan positif, dengan mayoritas responden mengharapkan kenaikan output selama 12 bulan mendatang," Bernard Aw.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.