Menteri Susi Tebar Ikan di Danau Toba, Ingatkan Bahaya Plastik

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama relawan membersihkan sampah yang ada di kawasan Pantai Timur, Kelurahan Ancol, Jakarta, Ahad 18 Agustus 2019. Kegiatan ini dilakukan bersama dengan 300 komunitas, organisasi, perusahaan swasta, BUMN dan Pemerintah Daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bersama relawan membersihkan sampah yang ada di kawasan Pantai Timur, Kelurahan Ancol, Jakarta, Ahad 18 Agustus 2019. Kegiatan ini dilakukan bersama dengan 300 komunitas, organisasi, perusahaan swasta, BUMN dan Pemerintah Daerah yang tersebar di seluruh Indonesia. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menebar 266.000 beragam benih ikan di Danau Toba, Sabtu, 14 September 2019. Selain untuk mengembalikan fungsi dan peran perairan umum daratan sebagai ekosistem yang seimbang, kegiatan ini juga bertujuan mengoptimalkan potensi dan menambah stok ikan untuk konsumsi.

    Jenis ikan yang ditebar tersebut berupa 250.000 benih ikan nilem, 15.000 benih ikan tawes, dan 1.000 benih ikan batak. Ikan batak merupakan ikan endemik yang hanya ditemukan di Danau Toba dan keberadaannya hampir punah.

    “Dengan kegiatan restocking ikan ini, kita kembalikan lagi ketersediaan ikan khususnya ikan endemik maupun spesifik lokal untuk menjaga keseimbangan eksosistem lingkungan perairan di Danau Toba,” tutur Susi seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima, Minggu, 15 September 2019.

    Susi mengatakan penyediaan kembali ikan di Danau Toba ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Dia berpesan agar sumber daya perikanan yang luar biasa ini harus dikelola dengan baik agar dapat lestari dan berkelanjutan.

    “Apabila penangkapan ikan di Danau Toba ini tidak terkontrol, percuma kita lakukan tebar benih. Gunakan alat tangkap yang sesuai aturan dan ramah lingkungan. Jangan rusak ekosistem perairan agar terus berkelanjutan,” katanya.

    Dia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan termasuk perairan Danau Toba. Salah satu langkah sederhana dengan dengan tidak membuang sampah plastik atau sampah yang tidak terurai lainnya.

    Diapun mendorong pemerintah daerah setempat agar segera menerbitkan peraturan daerah yang mengatur tentang penggunaan plastik dan pengelolaan sampahnya.

    Menurutnya, sampah plastik telah menjadi masalah serius di dunia. Bahkan, Indonesia menjadi negara kedua di dunia dengan sampah plastik terbanyak. Menteri Susi berpesan kepada masyarakat agar menjadi bagian dari solusi dalam memerangi sampah plastik.

    “Pengelolaan sampah plastik kan sudah ada peraturannya. Bapak dan ibu di sini bisa mulai dari hal kecil seperti dengan mengurangi penggunaan kantong kresek sekali pakai, air minum kemasan, dan sedotan plastik,” imbaunya.

    Menteri Susi menjelaskan Indonesia telah memiliki Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Pemerintah juga telah berkomitmen dalam kegiatan Our Ocean Conference 2018 lalu untuk menangani masalah sampah secara serius.

    “Saya tegaskan bahwa sampah plastik sangat sulit dimusnahkan, bahkan sampai puluhan tahun di dalam laut masih tetap utuh. Mulai dari diri sendiri dari lingkungan rumah dan sekitar,” kata Menteri Susi.

    “Saya minta kepada seluruh Bupati di seluruh kawasan Danau Toba khususnya Toba Samosir untuk serius menangani sampah plastik. Terus lakukan sosialisasi, tidak hanya warga lokal tapi juga turis yang datang ke Danau Toba,” ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.