Karir BJ Habibie di Tanah Air Bermula dari Pertamina

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo menyambut kedatangan Presiden ke-3 RI B.J Habibie di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 24 Mei 2019. TEMPO/Subekti.

    Presiden Joko Widodo menyambut kedatangan Presiden ke-3 RI B.J Habibie di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 24 Mei 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie mengembuskan nafas terakhirnya pada Rabu 11 September 2019, pukul 18.05 WIB. Teknokrat ini telah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta sejak Ahad, 1 September 2019.

    BJ Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Pemilik nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie itu merupakan anak ke empat dari delapan bersaudara dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan Tuti Marini Puspowadjojo.

    Lama menetap dan bekerja di Jerman, karir Habibie ini di Tanah Air dimulai di perusahaan minyak negara Pertamina pada tahun 1973. Lalu pada 1976, Habibie menjadi pimpinan pertama dari PT Dirgantara Indonesia.

    Pada 1978, ayah dua putera ini ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi. Jabatan tersebut secara berturut-turut ia pegang hingga 1997.

    Selama menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, suami dari Ainun Habibie ini menginisiasi pembuatan pesawat perintis yang diberi nama CN 25 Gatot Kaca.

    Pesawat nasional tersebut dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia, menjadi kebanggaan. Sebab, dapat menunjukkan bahwa Indonesia mampu melompat dari negara agraris menjadi negara industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Karier Habibie terus melesat mulai dari menjabat Wakil Presiden ke-7 RI, lalu menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada 21 Mei 1998.

    Jabatan yang diemban Habibie sebagai Presiden RI cukup singkat yaitu hanya selama satu tahun lima bulan, karena kondisi bangsa yang diterpa krisis saat itu.

    Namun di masa kepemimpinannya, Habibie sempat menghasilkan berbagai kebijakan yang populer seperti diresmikannya UU Otonomi Daerah. Pada masa pemerintahannya pula, lahir banyak partai politik karena Habibie memberikan kemerdekaan berpendapat bagi rakyat.

    Meski tidak lagi menjabat di pemerintahan, pemikiran Habibie masih terus dibutuhkan bagi bangsa dan negara terutama untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selamat berpulang, jenius pembuat pesawat terbang...

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.