Strategi Sri Mulyani Hadapi Ancaman Resesi: Countercylical

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers APBN KiTa di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Juli 2019 sebesar Rp183,7 triliun atau 1,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan keterangan pers APBN KiTa di kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Juli 2019 sebesar Rp183,7 triliun atau 1,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan telah memiliki strategi untuk mengantisipasi adanya potensi resesi ekonomi. Salah satunya dengan cara menerapkan kebijakan countercylical dari sisi fiskal terhadap kondisi ekonomi domestik yang terkena dampak resesi. 

    "Paling penting dari sisi makroekonomi adalah melakukan countercylical policy sesuai kebutuhan. Itu berarti kami melihat apakah APBN kita sehat dan punya space untuk melakukan," kata dia ditemui di Aula Gedung Djuanda, Kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin 9 September 2019. Countercylical adalah kebijakan yang melawan arus siklus bisnis seperti menerapkan kebijakan ekspansif berupa pelonggaran fiskal dan moneter.

    Sebelumnya, sejumlah pihak mengingatkan pemerintah tentang adanya ancaman resesi ekonomi. Salah satu tanda terlihat dari ekonomi Amerika Serikat yang menguasai 24 persen pangsa ekonomi dunia.

    “Ada fenomena menarik yakni inverted yield," kata Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Fadhil Hasan dalam diskusi Indef di Jakarta, Ahad 8 September 2019.

    Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, juga menyampaikan kekhawatiran serupa dari sisi pasar. Saat ini, spread yield obligasi Amerika Serikat bertenor 10 tahun dengan yield US Treasury bertenor 2 tahun menjauh 5 bps yakni 1,47 persen dengan 1,52 persen. Posisi tersebut merupakan terendah sejak 2007.

    Sri Mulyani menjelaskan sebelum melakukan kebijakan countercylical pemerintah akan terlebih dahulu melihat dampak kondisi ekonomi global terhadap ekonomi domestik. Khususnya, mengetahui resesi tersebut bisa merembet melalui jalur seperti apa.

    Dari sana, pemerintah bisa mengetahui apakah dampak tersebut terbatas pada pelemahan ekspor atau merembet sampai pada hal lain. Dari sana, Kementerian Keuangan baru bisa menyusun kebijakan yang diharapkan bisa mengimbangi resesi untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

    "Ini perlu untuk kami terus menerus pelajari dan kami waspadai karena di negara mana, bagaimana bentuk resesinya, apakah berkelanjutan atau seperti apa yang terjadi kami akan terus perhatikan?" kata Sri Mulyani.

    DIAS PRASONGKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?