Emil Salim: Lebih Baik Bangun SDM Ketimbang Pindah Ibu Kota

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prof. Emil Salim, salah seorang perwakilan dewan juri SATU Indonesia Awrad, mengatakan, generasi muda di Papua sebenarnya tidak tertinggal dengan anak-anakmuda di wilayah Indonesia lainnya, hanya saja kesempatan untuk mengembangkan diri perludiperbanyak.(Foto: TEMPO/Andi Prasetyo)

    Prof. Emil Salim, salah seorang perwakilan dewan juri SATU Indonesia Awrad, mengatakan, generasi muda di Papua sebenarnya tidak tertinggal dengan anak-anakmuda di wilayah Indonesia lainnya, hanya saja kesempatan untuk mengembangkan diri perludiperbanyak.(Foto: TEMPO/Andi Prasetyo)

    TEMPO.CO, Jakarta - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Emil Salim menanggapi rencana pemerintah yang ingin memindahkan ibu kota negara ke salah satu daerah di Kalimantan. Ia menilai, lebih baik melakukan pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia dibandingkan dengan pemindahan ibu kota.

    "Jadi kita harus mendahulukan  SDM di atas segala-galanya," ujarnya saat ditemui di Jakarta Design Center, Jakarta Barat, 19 Agustus 2019.

    Karena menurutnya, dana yang digunakan pemerintah senilai Rp 466 triliun yang akan digunakan pemerintah dalam pemindahan ibu kota lebih baik digunakan untuk meningkatkan kualitas SDM rakyat Indonesia. Emil mengatakan, saat ini kualitas SDM Indonesia masih rendah berada di peringkat 62 diantara 70 negara.

    Emil juga mengingatkan bahwa pemindahan ibu kota akan membuat ongkos berusaha di Indonesia semakin mahal. Pasalnya, pelaku usaha harus bolak-balik untuk mengurus perizinan ke Kalimantan yang digadang-gadang bakal menjadi lokasi ibu kota baru.

    Dia mengungkapkan saat ini waktu yang tepat karena didukung oleh bonus demografi karena ini merupakan kejadian yang sangat jarang dan bisa terulang.

    "Ini menjadi prioritas oleh karena itu bonus demografi mulai tahun 2020 sampai tahun 2035 setelah itu tidak ada lagi. Jadi kelompok ini yang harus digenjot habis-habisan," ucapnya.

    Ia juga memaparkan bahwa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi angkatan kerja yang memiliki tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang cukup tinggi dibandingkan lulusan yang lain. Menurut data yang ia tampilkan, pada Februari 2019 SMK capai 8,63 persen, lalu Diploma 6,89 persen dan Universitas capai 6,24 persen.

    Kemudian Emil menjelaskan salah satu cara meningkatkan SDM ini yakni dengan mencontoh Singapura. "Kembangkan sekolah-sekolah menjadi lebih banyak, gurunya diperbaiki, kirim gurunya ke Singapura. Bagaimana mendidik matematika, sains, dan baca," ungkap dia.

    Jika program pengembangan SDM ini berhasil, kata Emil Salim,  tidak ada yang tidak mungkin untuk membangun ibu kota dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk kemajuan sebuah negara.

    EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.