Tips Bisnis Hewan Kurban dari Pedagang Beromzet Rp 5 M

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter Hewan dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Surakarta memeriksa sapi dan kambing yang dijual di kawasan Mojosongo, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat 9 Agustus 2019. Pemeriksaan ringan dengan menggunakan termometer tersebut untuk mengetahui suhu panas tubuh hewan serta layak tidaknya hewan tersebut dijual. Tempo/Bram Selo Agung

    Dokter Hewan dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Surakarta memeriksa sapi dan kambing yang dijual di kawasan Mojosongo, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat 9 Agustus 2019. Pemeriksaan ringan dengan menggunakan termometer tersebut untuk mengetahui suhu panas tubuh hewan serta layak tidaknya hewan tersebut dijual. Tempo/Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Jakarta - Zabidi, pengusaha sapi dan kambing kurban beromzet Rp 5 miliar, memberi saran bagi masyarakat yang mau terjun ke bisnis hewan kurban. Ia menyarankan calon pebisnis untuk memahami dulu seluk beluk perawatan hewan ternak.

    "Kalau ternak hewan berisiko tinggi yang pertama harus hobi dulu, baru masuk ke bisnis," ujar peternak yang memiliki kandang di kawasan Kembang Beji, Depok, Jawa Barat, itu kepada Tempo, Sabtu, 10 Agustus 2019.

    Menurut dia, apabila masyarakat awam langsung terjun ke bisnis hewan kurban, kebanyakan akan kesulitan. Pasalnya, perawatan sapi dan kambing tidak sederhana.

    Zabidi sebenarnya baru setahun terakhir terjun secara penuh ke bisnis hewan ternak. Sebelumnya, ia berbisnis sapi dan kambing, sembari tetap berstatus karyawan di sebuah perusahaan.

    "Memang ini usaha turunan dari orang tua tapi dulu jual sedikit, sementara saya mulai menjual besar. Dulu orang tua mainnya lokal saja. Jadi sapi itu saya sudah paham betul perawatan dan segala macam," ujar Zabidi.

    Ia mengatakan risiko bisnis hewan ternak termasuk tinggi, mengingat sapi dan kambing rentan terhadap penyakit dan kematian. Selain itu, kendala dalam berbisnis hewan kurban adalah di pengiriman. Apalagi, lantaran ia sudah memiliki pelanggan, kebanyakan pesanan datang melalui telepon.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.