Sistem Bank Mandiri Sempat Error, Ahli IT Sayangkan Hal Ini

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dalam menghadapi masa mudik Lebaran 1440 H, Bank Mandiri juga memastikan menambah pasokan uang elektronik atau e-Money, selain pasokan uang tunai. (Foto: Shutterstock)

    Dalam menghadapi masa mudik Lebaran 1440 H, Bank Mandiri juga memastikan menambah pasokan uang elektronik atau e-Money, selain pasokan uang tunai. (Foto: Shutterstock)

    TEMPO.CO, Jakarta - Layanan Bank Mandiri telah kembali beroperasi 100 persen pada Sabtu sore kemarin setelah layanan Mandiri Online dan jaringan ATM sempat dinonaktifkan pada pagi harinya.

    Hal itu dilakukan setelah terjadi sistem error di Bank Mandiri yang mengakibatkan perubahan saldo secara drastis kepada 10 persen atau sekitar 1,5 juta nasabahnya. Keluhan dari nasabah pun muncul di sejumlah daerah maupun lewat media sosial.

    Ahli Keamanan Siber Vaksincom Alfons Tanujaya menilai kejadian tersebut memang bukan disebabkan oleh upaya peretas. Meski begitu, ia menyayangkan hal itu terjadi karena bank tidak mempersiapkan proses upgrade sistem dengan lebih matang. “Tidak diserang peretas saja sudah kacau sendiri, bagaimana kalau diserang?” ujar Alfons, Sabtu, 20 Juli 2019.

    Hal tersebut, kata Alfons, juga menunjukkan bahwa pembelian peranti lunak atau sistem IT yang mahal tidak cukup untuk menjamin suatu sistem berjalan dengan baik. Ia juga menyebutkan, implementasi sistem, sumber daya manusia yang kuat, dan dukungan yang baik dari vendor lokal yang berpengalaman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari membeli peranti lunak.

    Sementara itu, Advisor Indonesia Digital Empowerment Community (IDIEC) Mochamad James Falahuddin menduga lamanya penyelesaian masalah tersebut oleh Bank Mandiri disebabkan antara adanya langkah yang terlewat saat pemulihan data di sistem baru atau ada sesuatu yang besar yang tidak diceritakan ke publik.

    “Harusnya back-up restore dan recovery-nya sudah ada sistem yang sangat bagus. Saya yakin tidak sesederhana itu kejadiannya (kesalahan pemindahan data),” tuturnya James.

    Perbankan, menurut James, seharusnya sudah memiliki berbagai langkah dan rajin mengevaluasi mitigasi risiko sebuah operasional IT. Terlebih, strategi sektor perbankan merupakan hal yang selalu diulas regulator.

    Sebelumnya Corporate Secretary Bank Mandiri, Rohan Hafas, menyatakan, layanan bank pelat merah itu telah kembali beroperasi 100 persen pada Sabtu sore, 20 Juli 2019. "Sudah pulih semua dan 100 persen. Ini normal sejak 15.30 tadi," katanya.

    Pasca proses normalisasi saldo rekening nasabah, Bank Mandiri memastikan seluruh layanan kembali beroperasi normal. Layanan tersebut meliputi Mandiri online, internet banking, SMS banking, ATM dan EDC.

    Rohan menjelaskan proses normalisasi itu membutuhkan waktu cukup lama karena perlu adanya audit secara teknologi informasi untuk mengetahui penyebab dari errornya sistem perbankan Bank Mandiri.

    Lebih jauh Rohan kembali meminta maaf atas apa yang telah terjadi dan mengganggu dari kenyamanan nasabah Bank Mandiri. "Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya, saat ini layanan sudah pulih dan kami senantiasa memastikan keamanan rekening nasabah,” ujarnya.

    BISNIS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.