Cina Melambat, Kinerja Ekspor Dikhawatirkan Kian Merosot

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menilai pelambatan ekonomi Cina bisa memperparah kinerja ekspor dan memberi defisit neraca dagang jika tak diantisipasi dengan peningkatan daya saing produk ekspor nonmigas.

    Josua menyebutkan pencatatan surplus neraca dagang Juni 2019 memang lebih diakibatkan oleh kontraksi lebih besar pada impor. Selain itu surplus pada neraca non migas juga kian menurun.
     
    "Artinya kita menghadapi volume ekspor nonmigas menurun ini memang dipengaruhi oleh tren pelambatan global secara khusus ekonomi Cina," ujar Josua, Selasa, 16 Juli 2019.
     
    Cina sebagai mitra dagang utama Indonesia ini jelas memberi efek pada kinerja ekspor Indonesia. Apalagi, kata Josua, dampak perang dagang Cina dan AS masih jadi faktor penyebab menurunnya kinerja ekspor. "Karena kita distribusi ekspor nonmigas kita cukup besar terhadap Cina," paparnya.
     
    Josua juga mengingatkan bahwa untuk memperkuat ekspor nonmigas, pemerintah perlu menambah kualitas daya produk ekspor di pasar global. "Value added komoditi ekspor kita juga belum tinggi sehingga akan sangat bergantung pada gerakan harga komoditas global." 
     
    Lebih jauh Josua pun mengimbau pemerintah untuk mendorong kembali ekspor nonmigas sebagai solusi menjaga defisit transaksi berjalan. "Setidaknya dalam level yang cukup sehat sampai akhir tahun ini."
     
    Sebelumnya Badan Pusat Statistik atau BPS melaporkan posisi neraca perdagangan pada Juni 2019 mengalami surplus sebesar US$ 196 juta atau dibulatkan menjadi US$ 0,2 miliar. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan performa kinerja ekspor dan impor pada bulan lalu terpengaruh cuti selama 9 hari pada masa Lebaran. 

     

    Suhariyanto menerangkan nilai impor pada Juni 2019 tercatat sebesar US$ 11,58 miliar dan capaian ekspor sebesar US$ 11,78 miliar. Adapun surplus disebabkan oleh surplus sektor nonmigas sebesar US$ 1.162,8 juta. 

    “Namun catatannya, neraca perdagangan dari Januari ke Juni 2019 masih mengalami defisit US$ 1,93 miliar,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di kantor BPS, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Senin, 15 Juli 2019. 

    BPS mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Juni turun 8,98 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Sedangkan dibanding bulan lalu, kinerja ekspor mengalami penurunan 20,54 persen. Penurunan terjadi untuk ekspor migas dan non-migas. 

    Tak hanya ekspor, kinerja impor juga tercatat menurun untuk migas dan non-migas. Turunnya nilai impor seluruh komponen migas sebesar US$ 469,2 juta dan non-migas US$ 2.553,7 juta dibanding Mei 2019.  

    BISNIS

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.