Ini Saran Megawati Institute untuk Kabinet Ekonomi Baru Jokowi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta dalam kegiatan Indonesian Energy Economics Forum 2018, di Jakarta, Jumat, 16 November 2018. (dok KEIN)

    Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta dalam kegiatan Indonesian Energy Economics Forum 2018, di Jakarta, Jumat, 16 November 2018. (dok KEIN)

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Megawati Institute, Arif Budimanta, mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah memiliki preferensi untuk memilih atau menetapkan tim ekonomi pada kabinet barunya. Tim ekonomi yang dipilih tentunya yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan terhadap situasi perekonomian nasional 5 tahun ke depan.

    Baca juga: Jokowi Buka Pameran Karya Kreatif 370 UMKM

    Arif mengatakan, tim ekonomi Jokowi mendatang perlu mencermati beberapa hal penting. Apalagi, saat ini Indonesia dihadapkan pada tantangan perekonomian nasional yang tidak gampang, terutama dinamika penurunan pertumbuhan ekonomi global.

    "Untuk menggerakam pertumbuhan ekonomi, ke depan perlu lebih mengedepankan endogen faktor, faktor dalam negeri dibandingkan dengan mempertimbangkan aspek eksogen, faktor luar negeri kita," kata Arif Budimanta usai diskusi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah: Potensi yang Terabaikan Menuju Pertumbuhan Ekonomi 7 persen, di kantor Megawati Institute, Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.

    Menurut Arif, mendorong usaha mikro kecil dan menengah menjadi sangat penting bagi Indonesia. Sebab, hal ini dapat membantu menciptakan lapangan pekerjaan yang banyak sekaligus menumbuhkan ekonomi dan menciptakan pemerataan.

    "Kenapa UMKM, karena dari sisi wisdom, dia mempergunakan resource yang sifatnya lokal, baik SDM maupun sumber daya bahan baku daripada aktifitas usahanya itu," ujar Arif Budimanta.

    Kemudian, kata Arif, UMKM bisa memenuhi selera masyarakat Indonesia. Apalagi kalau bicara tentang UMKM yang bergerak di sektor usaha makanan dan minuman, industri hasil pertanian, dan fashion.

    Menurut Arif, hal itu adalah kekuatan yang sangat besar yang kemudian kalau digerakkan dengan sistematis dan dengan energi yang juga besar, maka akan membuat Indonesia bisa keluar dari middle income trap. "Juga keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi 5 persen," kata dia.

    Baca berita terhangat tentang Presiden Jokowi di Tempo.co

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.