Persepsi Risiko Turun, BI: Modal Asing Masuk Tembus Rp 130,24 T

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers di Gedung Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 25 Januari 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam jumpa pers di Gedung Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 25 Januari 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta -  Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan ekspektasi risiko investasi di Indonesia yang tergambar dari Credit Default Swap (CDS) semakin menurun. Hal tersebut memicu derasnya penanaman modal asing (capital inflow) yang mencapai Rp 130,24 triliun sejak awal tahun hingga Kamis kemarin.

    Baca: Sama dengan The Fed, BI Juga Pertahankan Suku Bunga Acuan

    "Beberapa indikator menunjukkan perbaikan, persepsi semakin baik, terlihat dari indeks CDS yang menurun dari 101,94 menjadi 87,9. Seiring itu, inflow (modal asing masuk) mencapai Rp 130,24 triliun," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat, 21 Juni 2019.

    Dari total modal masuk itu, kata Perry, mayoritas dana asing ditempatkan di portofolio Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 72,96 triliun, dan kemudian pasar saham Rp 58,59 triliun. "Dalam minggu-minggu terakhir memang investor asing tercatat net buy (beli bersih) antara lain karena ada lelang dari SBN."

    Perry menjelaskan, untuk beberapa hari terakhir saja pada kurun 17-20 Juni 2019 jumlah aliran modal asing yang masuk ke SBN mencapai Rp 22,66 triliun dari total investasi yang masuk Rp 23,67 triliun. Sementara, sisanya sebesar Rp 1,01 triliun berada di saham dan SBI. "Untuk sahamnya (year to date) Rp 58,95 triliun, sisanya yang jumlahnya kecil-kecil di Sertifikat BI (SBI)," katanya.

    Adapun CDS (risiko gagal bayar) merupakan parameter yang digunakan investor untuk mengukur kemampuan penerbit instrumen keuangan dalam mengembalikan investasi termasuk imbal hasilnya. Beberapa dinamika perekonomian yang akan mempengaruhi CDS adalah pergerakan suku bunga Bank Sentral AS The Federal Reserve, ketegangan hubungan dagang AS dan Cina serta pengelolaan ketahanan ekonomi domestik.

    Akibat derasnya modal asing yang masuk, suplai valas semakin memadai sehingga tidak menurunkan nilai tukar rupiah di pasar. "Alhamdulillah nilai tukar stabil dan kuat, kemarin ditutup di level Rp 14.180, hari ini sempat di bawah Rp 14.100 meski sekarang sudah sedikit di atas Rp 14.100," kata Perry.

    Baca: Ekonomi Digital Makin Berkembang, BI Tawarkan 5 Visi Sistem Pembayaran 2025

    Kurs tengah BI pada Jumat ini menunjukkan rupiah menguat menjadi Rp 14.116 per dolar AS. Penguatan itu terlihat bila dibandingkan dengan kurs rupiah di hari sebelumnya di posisi Rp 14.236 per dolar AS.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.