Peringkat Daya Saing RI Melonjak, Masih Ada 5 Tantangan Ekonomi

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019.  Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global bakal melambat menjadi 2,9 persen pada tahun 2019. Angka itu turun dibandingkan dari pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 3 persen pada 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    Pekerja tengah menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di kawasan Sudirman, Jakarta, Rabu, 9 Januari 2019. Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global bakal melambat menjadi 2,9 persen pada tahun 2019. Angka itu turun dibandingkan dari pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 3 persen pada 2018. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Jokowi diminta segera ambil langkah pembenahan menyusul tren peningkatan peringkat daya saing Indonesia yang tecermin dari membaiknya peringkat berdasarkan riset IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) 2019. Indonesia menempati urutan ke-32 dari 63 negara pada 2019 atau meningkat drastis dari posisi 2018 yang berada di posisi ke-42.

    Baca: Indeks Daya Saing RI Naik 11 Peringkat, Darmin:Lompatan Tertinggi

    Meski begitu, Managing Director LM FEB UI Toto Pranoto menyebutkan terdapat lima tantangan yang masih dihadapi Indonesia pada 2019. Kelima tantangan itu adalah pertumbuhan ekonomi dan ekspansi kredit yang stagnan, masih kurangnya penguatan industri dasar, inkonsistensi penerapan kebijakan dan penegakan hukum.

    Selain itu perlunya peningkatan kompetensi dan keahlian SDM; dan perubahan struktur pemerintahan pascapelaksanaan Pemilu 2019. “Menjawab tantangan-tantangan ini adalah upaya untuk terus meningkatkan daya saing Indonesia,” kata Toto, Senin 3 Juni 2019.

    Peringkat daya saing Indonesia versi IMD WCY 2019 meningkat 11 level dari 43 ke 32. Ini merupakan lompatan tertinggi di Asia. Peringkat daya saing Indonesia saat ini berada di atas negara-negara selevelnya seperti India, Filipina, Turki, Afrika Selatan dan Brasil.

    WCY menilai, Indonesia memiliki keunggulan dalam ekonomi domestik (peringkat 7), kebijakan perpajakan (peringkat 4), pasar tenaga kerja (peringkat 3), serta tingkah laku dan nilai (peringkat 14). Namun, Indonesia masih harus terus memperbaiki perdagangan internasional (peringkat 59), kesehatan dan lingkungan (peringkat 58), pendidikan (peringkat 52), dan infrastruktur teknologi (peringkat 49).

    Beberapa kriteria yang menunjukkan perbaikan signifikan antara lain aplikasi paten, tingkat korupsi, biaya listrik industri, keadilan, serta hukum. Kesemuanya itu menjadi indikator kemajuan yang baik di bidang ekonomi, pendidikan dan pengetahuan, serta hukum.

    Faktor yang dianggap paling menarik dari perekonomian Indonesia menurut  Executive Opinion Survey, salah satu bobot yang dinilai WCY, adalah ekonomi yang dinamis, perilaku terbuka dan positif masyarakat, serta kebijakan yang stabil dan terprediksi. Perbaikan peringkat daya saing Indonesia menunjukkan hasil positif dari berbagai reformasi struktural dan ekonomi yang secara konsisten terus dilakukan oleh Pemerintah.

    Kementerian Keuangan menyatakan bakal terus melanjutkan komitmen reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Begitu pula infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, industrialisasi dan kerangka institusi masih menjadi prioritas pembangunan Pemerintah.

    Baca: Staf Khusus Jokowi Sebut 4 Alasan Daya Saing Indonesia Menguat

    Fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga juga menjadi modal penting bagi peningkatan daya saing. "Ekonomi Indonesia mampu tumbuh di atas 5 persen dengan tingkat inflasi yang rendah, penurunan tingkat pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan," seperti dikutip dari siaran pers di situs Kementerian Keuangan, Jumat, 31 Mei 2019.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.