Agar Kompetitif, Industri Perkebunan Didorong Kembangkan Riset

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan dikenal dengan keindahan alam disekitar Gunung Dempo. Saat ini, wisatawan dapat juga menikmati hamparan kebun teh, kebun kopi dan kebun sayur. Bahkan saat ini terdapat destinasi wisata perkebunan kopi. Tempo/ Parliza Hendrawan

    Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan dikenal dengan keindahan alam disekitar Gunung Dempo. Saat ini, wisatawan dapat juga menikmati hamparan kebun teh, kebun kopi dan kebun sayur. Bahkan saat ini terdapat destinasi wisata perkebunan kopi. Tempo/ Parliza Hendrawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah mendorong penuh pengembangan riset dari sisi hulu dan hilir untuk menghasilkan komoditas perkebunan yang berkualitas tinggi dan dapat bersaing di pasar global. Hal itu, kata dia, untuk terus mendorong kualitas komoditas agar mampu memenuhi permintaan pasar.

    Baca juga: Ekonom: Pidato Jokowi Game of Thrones Menitikberatkan 2 Hal Ini

    Menurut dia, komoditas perkebunan nasional, seperti kopi, kakao, dan teh, telah menjadi tren gaya hidup yang erat dengan kehidupan masyarakat, tanpa mengenal batas usia dan gender. Namun, sektor perkebunan tanpa pengembangan riset tidak akan dapat berkembang secara optimal. 

    “Saya ingat pernah melakukan pengembangan riset komoditas perkebunan pada tahun 1980-an. Namun, hal ini berhenti dan tidak diteruskan. Padahal, komoditas-komoditas ini sangat berpeluang melahirkan tidak hanya lapangan usaha, tetapi juga entrepreneur yang dapat membangun sektor ini secara jangka panjang,” ujar Darmin Nasution dalam keterangan tertulis, Kamis malam, 4 April 2019.

    Tidak hanya itu, Darmin juga menyoroti beberapa produk perkebunan rakyat yang minim riset. Di sisi lain, pengembangan riset hanya ditemukan di perkebunan-perkebunan milik perusahaan besar. Saat ini, pengembangan riset yang diperlukan oleh sektor perkebunan sendiri berpusat pada riset terhadap benih, processing, dan budidaya komoditas itu sendiri.

    “Akan menjadi kerugian tersendiri jika di sekitar perkebunan rakyat tidak ada pengembangan riset yang biasa dikembangkan oleh perusahaan besar dan pemerintah tidak mengambil langkah untuk mengisi kekosongan ini. Karena itulah, kami terus mendorong pengembangan riset untuk komoditas perkebunan ini,” kata Darmin.

    Tahun 2018, kinerja komoditas kopi nasional dari sisi luas areal perkebunan mencapai 1,24 juta hektare dan total produksi 722 ribu ton. Adapun produksi komoditas teh mencapai 141 ribu ton yang didapat dari luas areal sebesar 113 ribu hektare sepanjang tahun 2018. Sementara untuk coklat, Indonesia dapat menghasilkan jumlah produksi biji kakao pada tahun 2018 mencapai 593 ribu ton dari luas areal perkebunan 1,67 juta hektare.

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.