Ekonom: Pidato Jokowi Game of Thrones Menitikberatkan 2 Hal Ini

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo berbicara dalam sesi pleno Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Afriadi Hikmal

    Presiden Joko Widodo berbicara dalam sesi pleno Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Afriadi Hikmal

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan pidato Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang mengistilahkan kondisi ekonomi dunia dengan film Game of Thrones, menitikberatkan pada kooperasi dan koordinasi di tengah perang dagang. Menurut Bhima pidato Jokowi tersebut ditanggapi positif oleh para pelaku pasar.

    BACA: Pidato Game of Thrones, Ketua DPR: Pak Jokowi Out of The Box

    "Pidato Presiden Jokowi juga ditanggapi positif oleh pasar karena menitikberatkan pentingnya kooperasi dan koordinasi dalam menjaga stabilitas ekonomi global di tengah perang dagang," ujar Bhima saat dihubungi, Minggu, 14 Oktober 2018.

    Bhima mengatakan pesan itu diharapkan membangkitkan kesadaran para pemimpin di Negara maju untuk mengakhiri kebijakan proteksi dagang mereka.

    Sebelumnya Jokowi menyebutkan bahwa bahwa kondisi ekonomi global saat ini seperti dalam serial Game of Thrones. Menurut dia, dalam serial ini beberapa great houses dan great family bertarung hebat antara satu dengan lainnya, memperebutkan kekuasaan untuk mengambil alih kembali The Iron Throne.

    BACA: Teka-teki Tokoh di Balik Pidato Game of Thrones Jokowi

    "Yakni evil winter, yang ingin merusak dan menyelimuti seluruh dunia dengan es dan kehancuran," kata Jokowi saat memberikan sambutan dalam acara Plennary Meeting, di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018.

    Perebutan kekuasaan itu, kata Jokowi, seperti roda yang berputar sehingga menimbulkan great house yang berjaya tetapi ada juga yang mengalami kesulitan. Namun, para great houses tersebut lupa bahwa tatkala sibuk bertarung seru dengan yang lain mereka tidak sadar akan adanya ancaman besar dari utara.

    Karena itu, Jokowi mengatakan, di dunia nyata, kondisi itu serupa dengan kondisi saat ini yang mana balance of power atau aliansi antar negara negara maju sepertinya tengah mengalami keretakan. Sementara lemahnya kerja sama dan koordinasi telah menyebabkan terjadi banyak masalah. Hal ini ditunjukkan oleh lonjakan drastis harga minyak dan juga kekacauan di pasar mata uang yang dialami oleh negara emerging market.

    Pertarungan tersebut menimbulkan adanya negara yang mengalami dan menikmati pertumbuhan pesat, namun di banyak negara terdapat pula pertumbuhan yang lemah atau tidak stabil. Selain itu, perang dagang semakin marak, dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang, banyak negara juga mengalami tekanan pasar yang besar.

    Pujian atas pidato Jokowi juga disampaikan oleh Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde. "Saya juga berterima kasih kepada Presiden telah menyampaikan pidato yang sangat baik, kami begitu kurang berhasil untuk menyampaikan yang sama," ujar Lagarde sambil sedikit tertawa.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.