KIP Kuliah Diprioritaskan untuk Berkuliah di Dalam Negeri

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah calon mahasiswa mengikuti Ujian Seleksi Nasional Masuk perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012 di Universitas Negeri Medan, Sumut, (12/6). Ujian SNMPTN yang berlangsung serentak di Indonesia tersebut memperebutkan 106.363 kursi yang disediakan oleh 61 Perguruan Tinggi Negeri. ANTARA/Septianda Perdana

    Sejumlah calon mahasiswa mengikuti Ujian Seleksi Nasional Masuk perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012 di Universitas Negeri Medan, Sumut, (12/6). Ujian SNMPTN yang berlangsung serentak di Indonesia tersebut memperebutkan 106.363 kursi yang disediakan oleh 61 Perguruan Tinggi Negeri. ANTARA/Septianda Perdana

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi Ainun Naim mengatakan Kartu Indonesia Pintar Kuliah alias KIP Kuliah bakal diprioritaskan untuk membiayai kuliah di perguruan tinggi dalam negeri ketimbang di luar negeri. "Belum (untuk beasiswa kuliah di luar negeri), karena di luar negeri kan mahal," ujar dia di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Selasa, 12 Maret 2019.

    Baca: Jokowi Bakal Keluarkan KIP Kuliah, Beda dengan Bidik Misi?

    Ainun berujar, kalau pun ada mahasiswa kurang mampu yang akan dikuliahkan di luar negeri menggunakan KIP Kuliah, sifatnya sangat selektif. Menurut dia, apabila duit beasiswa untuk berkuliah di luar negeri digelontorkan untuk kuliah di dalam negeri, penerimanya akan lebih banyak.

    "Misalnya saja kalau kita kasih beasiswa mahasiswa ke Australia itu bisa untuk 50 mahasiswa di dalam negeri," kata Ainun. Di samping itu, ia berpendapat perguruan tinggi di dalam negeri pun sudah banyak yang kualitasnya bersaing dengan kampus-kampus di luar negeri.

    KIP Kuliah belakangan terus didengungkan oleh calon presiden inkumben Joko Widodo. Jokowi mengatakan kartu itu bagian dari programnya kelak saat terpilih kembali.

    Kartu KIP Kuliah diklaimnya akan memudahkan anak-anak muda dari keluarga kurang mampu mengecam pendidikan tinggi. Ia menceritakan pengalamannya menjadi anak orang yang tidak mampu. “Saya merasakan sendiri mau sekolah sulit, mau kuliah sulit.” Kartu itu, kata Jokowi, penting bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu agar bisa kuliah.

    Jokowi mengklaim kartu itu bisa dimanfaatkan untuk membantu biaya kuliah di dalam negeri juga di luar negeri. Rancangan ini dimulai tahun depan. “Kuliah tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar (negeri).” 

    Hingga kini, Ainun menyebut konsep detail dari KIP Kuliah masih belum rampung dirumuskan. Namun, ia melihat masih ada ruang atau ada masyarakat yang mampu secara akademik tapi belum masuk kriteria Bidik Misi. "Ini sedang kami identifikasi."

    Ia menargetkan konsep KIP Kuliah rampung secepatnya, bahkan bisa diterapkan tahun ini. "Tapi anggaran tahun ini kan sudah ada, meski kalau diperlukan nanti kan ada APBN Perubahan," kata dia.

    Baca: KIP Kuliah, Jokowi: Anggarannya Akan Sangat Besar, Kita Siapkan

    Saat ini, anggaran untuk Bidik Misi adalah sekitar Rp 4 triliun hingga Rp 4,5 triliun. Ia memastikan anggaran itu akan naik seiring dengan digulirkannya KIP Kuliah. Meski, ia belum mau mengatakan berapa jumlah penerima KIP Kuliah itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.