Penjualan Furnitur di Ifex 2019 Ditargetkan USD 300 Juta

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati produk furniture pada pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2017 di JI Expo, Jakarta, 11 Maret 2017. Pameran IFEX 2017 itu diikuti 412 peserta itu menargetkan 10.000 pengunjung. ANTARA FOTO

    Pengunjung mengamati produk furniture pada pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2017 di JI Expo, Jakarta, 11 Maret 2017. Pameran IFEX 2017 itu diikuti 412 peserta itu menargetkan 10.000 pengunjung. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berharap penjualan furnitur ekspor meningkat dalam acara Indonesia International Furniture Expo atau Ifex 2019.

    Baca juga: Kemenperin Sasar Amerika dan Eropa untuk Ekspor Produk IKM

    "Targetnya tahun ini dari penjualan pameran itu US$ 300 juta, kalau pameran ini kan business to business," kata Airlangga saat meresmikan Ifex 2019 yang digelar Himpunan Industri Mebel dan Kerjinan Indonesia atau HIMKI di Jiexpo Kemayoran, Jakarta, Senin, 11 Maret 2019.

    Airlangga mengatakan acara tersebut dihadiri oleh dua per tiga negara anggota PBB sebagai pembeli. Adapun dari 127 negara yang menjadi pembeli, dia yakin target penjualan sebesar US$ 300 juta, bisa tercapai.

    Sedangkan, kata dia, berdasarkan pengalaman tahun lalu, penjualan usai IFEX dalam enam bulan ke depan bisa mencapai US$ 800 juta. Menurut Airlangga, angka tersebut menunjukkan Ifex sangat penting bagi para pengusaha furnitur. 

    Menurut dia, kinerja ekspor industri furnitur Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren positif. Pada 2016 nilai ekspor sebesar US$ 1,60 miliar, setahun kemudian naik dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,63 miliar.

    Pada 2018 nilai ekspor industri furnitur kembali naik menjadi US $ 1,69 atau naik sebesar 4 persen dibandingkan 2017. "Jadi ini juga harus didorong lagi, baik di Jawa Tengah seperti Cirebon, maupun tempat lain perlu ditingkatkan lagi," ujar dia.

    Kinerja ekspor furnitur Indonesia tersebut, kata Airlangga, masih relatif kecil dibandingkan dengan nilai perdagangan furnitur dunia yang terus meningkat. Berdasarkan data CSIL pada 2016 nilai perdagangan dunia adalah sebesar US$ 145 miliar dan pada 2017 mencapai US$ 154,5 miliar, atau tumbuh rata-rata sekitar 4-5 persen per tahun. 

    Dia mengatakan dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,63 miliar pada 2017 Indonesia berada pada posisi ke-22. Sementara posisi pertama masih diisi Cina dengan nilai ekspor sebesar US$ 50,8 miliar.

    Menurut Airlangga Hartarto, pemerintah telah menetapkan industri furnitur dan kerajinan sebagai salah satu bagian dari industri prioritas nasional. Hal ini antara lain didukung oleh ketersediaan sumber daya alam yang berlimpah di Indonesia, yaitu bahan baku kayu, rotan dan bahan alami lainnya. Selain itu industri furnitur ini merupakan sektor yang padat karya dan banyak menyerap tenaga kerja serta sebagai penghasil devisa yang potensial.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.