Sri Mulyani Jelaskan Sebab MRT Tak Mungkin Untung dari Jual Tiket

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas keluar dari gerbong MRT usai ,meninjau kesiapan Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis 28 Februari 2019. Tahap awal pihak MRT melakukan uji coba pada 12 Maret  untuk 4.000 orang kuotanya dan rencananya, uji coba berlangsung hingga 24 Maret 2019 dengan total penumpang yang diangkut mencapai 285.000 orang. Tempo/Tony Hartawan

    Petugas keluar dari gerbong MRT usai ,meninjau kesiapan Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Kamis 28 Februari 2019. Tahap awal pihak MRT melakukan uji coba pada 12 Maret untuk 4.000 orang kuotanya dan rencananya, uji coba berlangsung hingga 24 Maret 2019 dengan total penumpang yang diangkut mencapai 285.000 orang. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan keuntungan moda raya terpadu atau MRT bukan dari penjualan tiket perjalanan. Bahkan, bila dihitung, penjualan tiket tidak akan menutup modal investasi yang telah digelontorkan pemerintah.

    Baca: Sri Mulyani Bakal Investigasi Pajak Impor Buku Big Bad Wolf 2019

    "Investasi Rp 16 triliun tidak mungkin dan tidak akan balik (modal) dengan harga tiket," kata Sri Mulyani seusai meninjau proyek MRT di Stasiun MRT Senayan, Jakarta, Rabu sore, 6 Maret 2019.

    Seperti diketahui PT Mass Rapid Transit telah mematok harga tiket MRT senilai Rp 10 ribu untuk perjalanan dari Stasiun Lebak Bulus menuju Bunderan Hotel Indonesia atau sebaliknya. Harga tiket itu mengakomodasi perjalanan sejauh 16 kilometer.

    Adapun investasi senilai Rp 16 triliun itu merupakan dana patungan pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta. Pembiayaan proyek MRT berasal dari 49 persen anggaran pendapatan dan belanja negara dan 51 persen APBD DKI Jakarta.

    Lebih jauh, Sri Mulyani menilai, yang menjadi perhatian pemerintah adalah besarnya pergerakan ekonomi yang bisa dihitung dari nilai properti yang akan naik di sekitar stasiun-stasiun MRT. Selain itu, dampak ekonomi juga muncul dari properti di dalam stasiun MRT yang mulai disewa oleh perusahaan-perusahaan swasta. "Ini akan menimbulkan biaya sewa dan kegiatan ekonomi."

    Keuntungan lain dari MRT adalah adanya efisiensi waktu dan biaya perjalanan masyarakat Kota Jakarta. Sebab, MRT yang beroperasi dari Lebak Bulus hingga Bunderan Hotel Indonesia dan sebaliknya ini akan mencapai tujuan hanya dalam waktu 30 menit.

    Ihwal untung-rugi, Sri Mulyani memandang pembangunan MRT dapat terealisasi karena menggunakan pendekatan ekonomi. Salah satunya menghitung pemangkasan waktu tempuh perjalanan. Berkaca dari masa lalu, menurut dia, feasibility study MRT yang sudah ada sejak 1990 hanya berfokus pada kepentingan finansial.

    Hitungannya pun saat itu selalu terkait untung-rugi proyek. Hal itu pula yang membuat proyek MRT tidak dapat terealisasi selama 30 tahun.

    MRT fase I rute Bunderan Hotel Indonesia - Lebak Bulus akan mulai diujicobakan untuk umum pada 12 Maret 2019 nanti. Kereta modern ini bakal menghubungkan kedua lokasi dengan sekali angkut dapat menampung 1.200 hingga 1.800 orang.

    Baca: Sri Mulyani Sebut Sejumlah Tantangan bila RI Ingin 'Naik Kelas'

    Saat ini, proyek MRT telah 99 persen rampung. Setelah beroperasi, proyek ini akan memiliki 16 rangkaian kereta dengan enam gerbong setiap rangkaiannya.

    Simak berita terkait Sri Mulyani lainnya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.