Pasokan Minyak Dunia 2019 Terancam Karena Krisis Venezuela

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas mengisi Premium ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan Pertamina menaikkan harga BBM non-subsidi, Pertamax, menjadi Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar Non-PSO Rp 9.800 per liter. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    Petugas mengisi Premium ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018. Kenaikan harga minyak dunia menyebabkan Pertamina menaikkan harga BBM non-subsidi, Pertamax, menjadi Rp 10.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 12.250 per liter, Pertamina Dex Rp 11.850 per liter, Dexlite Rp 10.500 per liter, dan Biosolar Non-PSO Rp 9.800 per liter. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasokan minyak dunia diperkirakan akan berkurang pada tahun ini, karena krisis Venezuela.  Kepala Kuwait Petroleum Corp Hashem Hashem mengatakan, pasokan minyak global bisa terpukul tahun ini oleh penurunan besar dalam ekspor dari Venezuela. 

    Simak: Pertamina Belum Akan Turunkan Harga BBM Ikuti Tren Minyak Dunia

    Pemerintahan Trump telah memberlakukan sanksi besar pada perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA. Sanksi  bertujuan sangat mengekang ekspor minyak mentah anggota OPEC itu ke Amerika Serikat dan menekan Presiden Nicolas Maduro untuk mundur.

    "Salah satu risiko kekurangan pasokan yang diketahui pada 2019 akan mencakup penurunan berkelanjutan produksi minyak mentah Venezuela di luar ekspektasi saat ini," kata Hashem pada konferensi industri di Kuwait, dikutip dari Reuters, Selasa 5 Februari 2019.

    Namun, faktor yang tidak terprediksi baru-baru ini telah menjadi persepsi pasar tentang potensi kekurangan pasokan. Terutama dari tekanan geopolitik yang telah menyebabkan gangguan pasokan di masa lalu. “Serta karenanya menjadi ancaman nyata bagi 2019."

    Hashem melanjutkan, ancaman perang dagang AS-Cina dan beragam pesan dari Amerika Serikat mengenai kemungkinan akan menaikkan suku bunga menyebabkan volatilitas di pasar saham global. Hal itu pun dapat meningkatkan volatilitas harga minyak tahun ini.

    Untuk diketahui, OPEC, Rusia dan produsen non-OPEC lainnya - aliansi yang dikenal sebagai OPEC + - bersepakat pada Desember tahun lalu untuk mengurangi pasokan minyak dunia sebesar 1,2 juta barel per hari mulai 1 Januari 2019.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.