YLKI: Jika Merpati Terbang Lagi, Bisa Jaga Keseimbangan Industri

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan karyawan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) melakukan aksi di depan PN Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 14 November 2018. ANTARA/Zabur Karuru

    Mantan karyawan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) melakukan aksi di depan PN Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 14 November 2018. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKI Sudaryatmo mengatakan Merpati bakal menjadi katalis positif bagi industri penerbangan di Indonesia jika terbang lagi. Kehadiran Merpati diharapkan mampu menciptakan keseimbangan baru dalam pangsa pasar di industri penerbangan.

    Baca juga: Said Didu Berharap Merpati Fokus Layani Penerbangan Perintis

    "Merpati bisa jadi strategis karena, Merpati bisa menciptakan equilibrium (keseimbangan) baru. Sebab sekarang cenderung tidak sehat karena adanya dominasi airlines," kata Sudaryatmo saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi bertajuk "Semoga Merpati Tak Ingkar Janji" yang digelar oleh SmartFM di Atjeh Connectin, Sarinah, Jakarta Pusat, Sabtu, 17 Desember 2018.

    Merpati rencananya mengudara kembali pada 2019 usai tak lagi terbang pada 1 Februari 2014. Rencana terbang ini kembali mengemuka usai proposal pengajuan perdamaian terhadap pembayaran utang perusahaan terhadap kreditur diterima dalam sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di Pengadilan Negeri Surabaya.

    Selain itu, Merpati mengaku telah mendapat dana komitmen dari investor senilai Rp 6,4 triliun. Dana tersebut didapatkan dari Intra Asia Corpora, investor dalam negeri yang terafiliasi dengan Asuransi Intra Asia dan PT Cipendawa. Nantinya dana akan diberikan secara bertahap selama dua tahun.

    Sudaryatmo mengatakan, saat ini market share atau pangsa pasar penerbangan sebanyak 51 persen telah didominasi oleh salah satu maskapai yakni Lion Air Group. Sedangkan, Garuda Indonesia Group mendapat pangsa pasar sebanyak 30 persen, sedangkan selanjutnya sebanyak 13 persen dikuasai oleh Sriwijaya Group.

    Dengan kondisi demikian, kehadiran Merpati diharapkan mampu mengurangi dominasi salah satu maskapai dan menciptakan keseimbangan baru. Adanya keseimbangan tersebut tentunya bisa mengurangi ketergantungan masyarakat sebagai konsumen terhadap salah satu maskapai saja.

    "Kalau industri penerbangan itu dikuasai oleh salah satu airline dominan, tentu itu sangat riskan ketika ada masalah dari maskapai tersebut," kata Sudaryatmo.

    Sudaryatmo juga mencontohkan misalnya seperti kasus rencana mogok para pilot yang pernah dilakukan. Hal ini tentunya menimbulkan kekhawatirkan dari konsumen terhadap pelayanan penerbangan yang bisa terhambat.

    Selain itu, Merpati bisa membantu pemerintah dalam memberikan layanan kepada publik jika terbang lagi. Khususnya, lewat pelayanan penerbangan perintis ke remote area atau area terluar wilayah Indonesia. "Dalam konteks ini dukungan pemerintah dalam konteks angkutan perintis jadi penting. Aksesibilitas dari dan ke remote kan menjadi tanggung jawab negara juga," tutur Sudayatmo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?