Mendag: Indonesia Tidak Ingin Perang Dagang dengan Cina

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan antisipasi pemerintah menghadapi ancaman perang dagang AS, seusai rapat bersama Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin, 9 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan antisipasi pemerintah menghadapi ancaman perang dagang AS, seusai rapat bersama Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin, 9 Juli 2018. TEMPO/Friski Riana

    TEMPO.CO, Jakarta -Indonesia tidak menginginkan ada perang dagang dengan Cina sehingga diharapkan kedua negara sama-sama adil dalam memberlakukan komoditas yang akan masuk.

    BACA: Jack Ma: Perang Dagang AS - Cina Hal Terbodoh di Dunia

    "Kalau kedua negara tidak mau menyelesaikan pengenaan bea masuk yang bisa menghambat dan akan terus berkepanjangan, apa bedanya dengan perang dagang AS dan Cina. Itu yang tidak saya kehendaki dengan Cina," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kepada pers di Shanghai, Selasa.

    Dikatakannya, Indonesia dan Cina terus melakukan perundingan antarpejabat tinggi yang pada intinya ingin menyelesaikan hambatan secara bertahap. Salah satu permintaan Indonesia kepada Cina, kata Enggar, adalah Cina terus meningkatkan impor nonmigas dari Indonesia sehingga defisit bisa lebih kecil.

    BACA: Trump Mengaku Yakin Amerika dan Cina Bakal Akur Soal Perdagangan

    Dikatakannya, permintaan itu pun sudah dipenuhi Cina dengan meningkatkan impor minyak sawit mentah atau crude palm oil atau CPO sehingga defisit perdagangan cenderung berkurang tiap tahun. "Hal ini juga sesuai dengan janji Presiden Xi Jinping kepada Presiden Jokowi yang bersedia mengurangi defisit perdagangan Indonesia," katanya.

    Dalam kunjungan ke Shanghai kali ini, Enggartiasto juga sudah bertemu dengan Menteri Perdagangan Cina, yang antara lain membahas agar Cina impor lebih banyak dari Indonesia.

    Data Badan Pusat Statistik atau BPS menunjukkan ekspor nonmigas Indonesia ke Cina terus naik dari 13,26 miliar dolar AS pada 2015 menjadi 15,12 miliar dolar AS pada 2016, dan 2017 naik menjadi 21,35 miliar dolar AS. Sementara impor nonmigas Indonesia dari Cina juga cenderung meningkat, yaitu dari 29,22 miliar dolar AS pada 2015 menjadi 30,69 miliar dolar AS pada2016, dan 2017 menjadi 25,05 miliar dolar AS.

    Jika dilihat dari neraca perdagangan, Indonesia dalam tiga tahun terakhir antara 2015-2017 selalu mengalami defisit tapi mulai turun setiap tahun, yaitu 15,96 miliar dolar AS pada 2015, turun menjadi 15,57 miliar dolar AS pada 2016, dan 14,16 miliar dolar AS pada 2017.

    Dalam sembilan bulan pertama 2018 antara Januari-September, ekspor nonmigas Indonesia ke Cina sebesar 18,52 miliar dolar AS, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 14,60 miliar dolar AS. Demikian juga impor nonmigas naik menjadi 32,48 miliar dari AS dari 25,05 miliar dolar AS. sehingga dalam sembilan bulan pertama 2018 Indonesia defisit 13,96 miliar dolar AS.

    Baca berita tentang perang dagang di Tempo.co.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.