Selasa, 23 Oktober 2018

Temui Investor di New York, Luhut Banggakan Perekonomian RI

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menghadiri Spring Meeting IMF-WB 2018 di Washington DC, Amerika Serikat, akhir April 2018 ini. Spring Meeting membahas kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah IMF-WB yang digelar pada 12-14 Oktober 2018. WAHYU MURYADI

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menghadiri Spring Meeting IMF-WB 2018 di Washington DC, Amerika Serikat, akhir April 2018 ini. Spring Meeting membahas kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah IMF-WB yang digelar pada 12-14 Oktober 2018. WAHYU MURYADI

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan bertemu dengan beberapa investor saat berkunjung ke New York, Amerika Serikat, Rabu, 26 September 2018. Dalam pertemuan itu, Luhut menyampaikan kondisi ekonomi Indonesia saat ini di tengah berbagai gejolak ekonomi dunia.

    Baca: Luhut: Keberhasilan Ekonomi Diukur dari Kelestarian Lingkungan

    "Masalah Indonesia saat adalah menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Namun, saat ini kondisi tersebut masih dapat diatasi," kata Luhut dalam pertemuan itu seperti dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat, 29 September 2018.

    Dalam pertemuan itu, Luhut bertemu dengan Morgan Stanley Asset Management, Blackrock Investment Management, NN Investment Partners, TIAA Creft Investment Management, Prudential, Lazard Investment Management, dan Horizon Investment Management. Dalam pertemuan itu, Luhut juga mengajak perwakilan Bank Indonesia dan pelaku bisnis di Indonesia untuk bertemu dengan para investor.

    Luhut menjelaskan, saat ini kondisi inflasi sudah berada di bawah 5 persen. Sedangkan pada akhir bulan ini kami berharap angkanya bisa sekitar 4 persen.

    Selain itu, kata Luhut, saat ini Indonesia sudah memiliki tax ratio sebesar 12 persen dari Produk Domestik Bruto atau PDB. Jumlah ini merupakan angka yang jarang karena sebelumnya hanya mencapai 10 persen. "Doubel digit pendapatan pajak adalah angka yang jarang. Tapi kami ingin tahun depan harus lebih baik lagi."

    Adapun angka kemiskinan saat ini telah mencapai 9,28 persen. Level kemiskinan ini merupakan angka paling baik sejak tahun 1970 karena pertama kalinya angka kemiskinan bisa berada di level single digit.

    Luhut mengatakan pemerintah saat ini terus berusaha untuk memperbaiki neraca perdagangan yang tengah defisit. Salah satunya dengan mengimplementasikan biodiesel B20 untuk mengurangi defisit transaksi perdagangan di sektor minyak dan gas. “Dengan pertimbangan industri kita bisa tidak tergantung lagi kepada sumber energi berbahan fosil. Sekarang kita bisa mengkonversi minyak sawit menjadi bahan bakar."

    Terhitung sejak tanggal 1 September 2018, kata Luhut, semua produsen diwajibkan mencampur biodiesel dengan kandungan minimum 20 persen. Jika tidak, akan dikenakan denda sebesar US$ 40 sen per liter. Selain itu, untuk memperbaiki neraca pemerintah juga menerbitkan aturan mengenai kewajiban meningkatkan penggunaan produk lokal. Sedangkan ketiga, adalah dengan meningkatkan fasilitas dan infrastruktur pariwisata.

    Baca: IMF - World Bank, Luhut: Permintaan Mobil Lebih dari 4000 Unit

    Menurut Luhut, sektor ini berbiaya murah tetapi masukan yang didapat luar biasa. Ia tidak pernah menyangka pariwisata bisa menjadi primadona pemasukan negara. Saat ini, pemerintah tengah melakukan berbagai perbaikan seperti perpanjangan runaway pembangunan infrastruktur di tujuan-tujuan wisata dan hasilnya jumlah kunjungan wisatawan ke tempat-tempat tersebut berlipat ganda.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.