Kamis, 15 November 2018

Pembobolan 14 Bank oleh SNP Finance, Ini Tanggapan Sri Mulyani

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berbicara dengan petugas saat mengecek persiapan Asian Games 2018 di Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, Senin, 13 Agustus 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berbicara dengan petugas saat mengecek persiapan Asian Games 2018 di Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta, Tangerang, Senin, 13 Agustus 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai kasus penipuan yang dilakukan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) dapat menjadi penghambat upaya pendalaman pasar yang tengah dilakukan pemerintah. Pasalnya, kasus tersebut melibatkan kantor akuntan publik seperti Delloite Indonesia yang menjadi acuan kepercayaan investasi masyarakat.

    Baca: Tak Hanya Bank Mandiri, BCA Jadi Korban Pembobolan SNP Finance

    Terlebih, kata Sri Mulyani, saat ini pemerintah tengah melakukan pendalaman pasar terutama di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Kejadian penipuan seperti yang dilakukan SNP dapat membuat masyarakat khawatir.

    "Bagi masyarakat yang sebenarnya ingin mulai diversifikasi dari sisi investasi mereka, apa memberi corporate bond, membeli saham. Ini jadi penghalang kita mau makin meningkatkan apa yang disebut kinerja dan meningkatkan kedalaman pasar kita," ucap Sri Mulyani, Kamis, 27 September 2018. 

    Lebih jauh, Sri Mulyani juga mewaspadai potensi kasus serupa yang melibatkan akuntan publik. Menurut dia, yang paling penting dalam sektor keuangan adalah faktor integritas dan kepercayaan, maka munculnya kasus-kasus seperti ini akan membuat masyarakat menahan diversifikasi investasinya.

    Kemenkeu menyatakan akan bertindak tegas jika memang ada akuntan publik yang melanggar atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai ketentuan. mengaku sudah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kinerja dan peranan pemeriksa, dalam hal ini Delloite, pada kasus penipuan yang dilakukan SNP.

    Namun, pemerintah masih melakukan koordinasi terkait langkah lanjutan ke depannya. "Kami sudah koordinasi dengan OJK mengenai kinerja dan peranan dari pemeriksa pada kasus SNP ini. Dari Kemenkeu karena kami yang mengawasi kantor-kantor akuntan publik, kami bersama dengan OJK akan berkoordinasi langkah apa yang akan dilakukan," ujar Sri Mulyani.

    Institusi terkait, baik regulator maupun pengawas, diharapkan semakin meningkatkan kualitas untuk bisa menjaga kepercayaan masyarakat. Pasalnya, akan sulit untuk melakukan pendalaman pasar di bidang finansial jika tidak ada kepercayaan dari masyarakat.

    Kasus SNP yang dimaksud yaitu pembobolan dana sejumlah perbankan mencuat setelah Bareskrim Polri menindaklanjuti laporan PT Bank Pan Indonesia Tbk. (Bank Panin) atas SNP Finance karena tidak memenuhi kewajiban sebagai debitur dan penerbit Medium Term Notes (MTN).

    Dalam proses penyidikan, ditemukan peristiwa pidana pembobolan dana terhadap belasan bank, termasuk PT Bank Mandiri Tbk. (Persero) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) oleh pengurus SNP Finance selama 2003-2016, dengan modus operandi penyaluran kredit fiktif dari SNP Finance kepada PT Columbindo Perdana (Columbia).

    SNP Finance merupakan bagian dari usaha Columbia yang merupakan toko retail penjual barang elektronik, furnitur, dan perlengkapan rumah tangga. Perusahaan ini dikendalikan oleh Leo Chandra lewat PT Cipta Pratama Mandiri.

    Baca: Kasus SNP Finance, OJK Minta Kantor Akuntan Publik Diberi Sanksi

    Menurut data Bareskrim Polri, yang diperoleh dari dokumen pencairan kredit yang pernah diterima oleh SNP, total penggelapan mencapai Rp 14 triliun. Namun, OJK menyebutkan kredit yang disalurkan oleh perbankan kepada SNP Finance tidak mencapai Rp 14 triliun. Sebanyak 14 bank yang terlibat dalam kasus ini hanya menyalurkan pendanaan sekitar R p2,2 triliun.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.