Kontak Tani Indonesia Dukung Budi Waseso Tolak Impor Beras

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso saat melakukan konferensi pers terkait rapat koordinasi operasi pasar di gedung Bulog, Rabu, 19 September 2018. TEMPO/Kartika Anggraeni

    Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso saat melakukan konferensi pers terkait rapat koordinasi operasi pasar di gedung Bulog, Rabu, 19 September 2018. TEMPO/Kartika Anggraeni

    TEMPO.CO, Pangkalpinang - Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indonesia memberikan dukungan kepada Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso atau Buwas yang menolak impor beras. Dukungan penuh kepada Buwas diberikan karena petani merasa dibela dan aspirasi mereka didengar Buwas.

    Baca juga: Kakinya di HKTI dan Pemerintah, Moeldoko: Impor Beras Diperlukan

    "Kami petani merasa diaspirasikan oleh Dirut Bulog. Mungkin Dirut Bulog sebatas tugas dia menolak impor dengan alasan gudang penuh. Tapi secara tidak langsung dia membela kami petani," ujar Ketua Umum KTNA Winarno Tohir kepada wartawan seusai pembukaan kegiatan rembug utama nasional KTNA dan peresmian KTNA Expo Nasional di Alun-Alun Taman Merdeka Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung, Jumat, 21 September 2018.

    Menurut Winarno, KTNA bersama dengan perwakilan petani akan menemui Buwas dalam waktu dekat untuk menyampaikan dukungan langsung kepada Buwas.

    "Keputusan dan argumennya kami dukung. Indonesia tidak perlu impor beras karena stok beras yang ada di petani sudah cukup memenuhi kebutuhan nasional," ujar dia.

    Winarno menuturkan hasil survei Sucofindo pada Juni 2017 menemukan fakta stok gabah di tingkat petani mencapai 6,1juta ton yang diproduksi oleh 15 juta kepala keluarga (KK). Dengan jumlah stok yang terdata itu, kata dia, rencana melakukan impor beras sebanyak 2 juta ton tidak perlu dilakukan.

    "Jadi manakala kurang 2 juta ton, pemerintah jangan khawatir karena di petani kita ada. Cara mengeluarkannya bagaimana? Kasih harga bagus dong. Kalau harganya tidak bagus, mending kami simpan. Sekarang kan hitungannya Rp 4.200. Kalau beli dengan petani Rp 4.100, petani rugi. Kalau harga Rp 4.300 atau Rp 4.400, baru kami jual," ujar dia.

    Winarno mengatakan pihaknya mempertanyakan keakuratan dan sumber data yang dimiliki pihak terkait sehingga masih ingin melakukan impor beras. Untuk itu, kata dia, KTNA mendukung rencana komisi IV dan Komisi VI DPR RI untuk mengevaluasi pelaksanaan impor beras.

    "Datanya tunjukkan mau impor beras. Apalagi sekarang muncul 2 juta ton. Pasti dikejar datanya mana dan dari siapa. Ini jangan dianggap enteng. Semua masyarakat sekarang melihat, memperhatikan dan ikut mengamati perkembangan di media," ujar dia.

    Winarno menambahkan pihaknya berharap banyak kepada media massa agar dapat lebih meningkatkan peran dalam menyuarakan aspirasi petani. Salah satunya adalah penolakan impor beras dari petani.

    "Jangan ada impor beras lagi. Kita berharap pers bisa lebih menyuarakan aspirasi petani. Pasti banyak dicari beritanya yang akurat oleh petani karena kami berharap dapat terlindungi," ujar dia menyuarakan dukungan terhadap Budi Waseso.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.