Empat Alasan Budi Waseso Tolak Impor Beras

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja beristirahat di atas tumpukan karung beras saat dilakukan bongkar muat beras impor dari Vietnan dari kapal Hai Phong 08 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 11 November 2015. Tempo/Tony Hartawan

    Seorang pekerja beristirahat di atas tumpukan karung beras saat dilakukan bongkar muat beras impor dari Vietnan dari kapal Hai Phong 08 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 11 November 2015. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama Badan Urusan Logistik atau Bulog, Budi Waseso menolak dengan tegas adanya rencana impor beras. Menurut Budi Waseso, dirinya melihat sendiri bahwa kondisi beras sudah surplus, walau belum banyak.

    Budi mengaku heran ada yang tidak bangga ketika terjadi surplus pangan. Bahkan, kata dia, beras impor yang ada di Bulog itu tidak keluar sama sekali atau tidak terserap. Akibatnya mutunya bisa turun karena disimpan terlalu lama.

    Baca: Indonesia Tak Perlu Impor Beras hingga Pilpres 201

    Ia prihatin melihat Indonesia sebagai negara agraris tetapi malah impor produk pertanian. "Demikian ironis. Saya termasuk orang yang anti impor pangan," katanya.

    Budi mengatakan penandatangan perpanjangan impor yang dilakukannya itu merupakan perpanjangan dari izin impor yang diteken sebelum masa kepemimpinannya.

    Sebelumnya, Budi Waseso atau yang sering disapa Buwas ini sempat silang pendapat dengan Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito mengenai impor beras. Menurut Buwas, impor tak seharusnya dilakukan. Adapun, pihak Kementerian Perdagangan mengatakan impor beras merupakan keputusan yang diambil lewat rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

    Berikut beberapa alasan mengapa Budi Waseso menolak adanya impor beras.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.