17 Bulan Menjabat, Pahala Beberkan Kinerja Garuda Indonesia

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko Helmi Imam Satriyono, Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury, Direktur Niaga Domestik Nina Sulistyowati dan Direktur Kargo dan Niaga Internasional Sigit Muhartono saat paparan kinerja Garuda Indonesia, di Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Garuda Indonesia berhasil menekan kerugian sebesar 60 persen pada semester I-2018 menjadi US$114 juta atau Rp1,64 triliun. TEMPO/Tony Hartawan

    (ki-ka) Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko Helmi Imam Satriyono, Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury, Direktur Niaga Domestik Nina Sulistyowati dan Direktur Kargo dan Niaga Internasional Sigit Muhartono saat paparan kinerja Garuda Indonesia, di Jakarta, Senin, 30 Juli 2018. Garuda Indonesia berhasil menekan kerugian sebesar 60 persen pada semester I-2018 menjadi US$114 juta atau Rp1,64 triliun. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pahala Mansury resmi dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia pada Rabu, 12 September 2018. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang sekaligus menunjuk I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra alias Ari Askhara sebagai pengganti Pahala.

    Baca juga: Ari Askhara Ditunjuk Jadi Dirut Garuda Indonesia, Gantikan Pahala

    Dicopot dari posisinya, Pahala menilai kinerja perusahaan di bawah kepemimpinannya cukup baik. Parameternya ada penurunan kerugian perseroan yang cukup signifikan dalam 17 bulan masa jabatannya.

    "Dalam setahun ini kami bisa menurunkan tingkat kerugian sampai dengan 60 persen," ujar dia di Gedung Garuda Indonesia, Tangerang, Rabu, 12 September 2018.

    Padahal, di saat yang sama biaya bahan bakar pesawat terus mengalami kenaikan. Menurut Pahala, secara year-on-year, kenaikan harga minyak bisa mencapai 50 persen.

    Berdasarkan laporan keuangan semester I 2018, Garuda Indonesia tercatat merugi sebesar US$ 114 juta atau sekitar Rp 1,65 triliun. Nilai tukar rupiah yang terus melemah dan kenaikan harga avtur menjadi salah satu penyebab besar dari kerugian ini.

    Namun, kerugian pada Semester I 2018 ini sudah membaik jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017 yang mencapai US$ 284 juta atau sekitar Rp 4,11 triliun.

    Pahala mengatakan keberhasilan menekan kerugian perusahaan maskapai pelat merah itu tidak lepas dari hasil negosiasi leasing pesawat dan renegosiasi-renegosiasi lainnya.

    "Termasuk ada beberapa kasus yang kami bicarakan dengan pihak pabrikan, baik itu mesin, maupun pesawat," kata Pahala. "Itu ya yang betul-betul kami capai dalam kurun waktu 17 bulan."

    Sebelumnya, Pahala ditunjuk menempati posisi Direktur Utama Garuda pada April 2017. Berbekal rekam jejaknya sebagai Direktur Keuangan PT Bank Mandiri, ia dipilih Kementerian BUMN agar bisa menyelesaikan masalah keuangan yang mendera perusahaan plat merah ini.

    Bukan hanya di Garuda, Pahala juga mengatakan ada perbaikan kinerja di perusahaan anak Garuda, khususnya Citilink. "Kontribusi perusahaan anak kami naik sampai 26 persen," ujar Pahala. Di samping itu, ia mengatakan perseroan juga terus meningkatkan diversifikasi pendapatan.

    Sementara dari sisi operasi, Pahala mengatakan perseroan berhasil memangkas jumlah insiden tahun ini dari seribu penerbangan, menjadi separuhnya bila dibandingkan periode sama di tahun 2017. "Ketepatan penerbangan kita bulan Juli-Agustus itu rata-rata di ranking 7-15 di seluruh dunia," ujar dia.

    Sehingga, meski Garuda Indonesia mengalami perombakan direksi, Pahala menilai kinerja perseroan dalam satu tahun terakhir masih cukup baik. Ia berharap program kerja yang telah tercapai bisa dilanjutkan manajemen yang baru.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.