Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah Rp14.938

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faktor eksternal bikin nilai tukar rupiah Melemah terhadap dolar AS. REUTERS/Willy Kurniawan

    Faktor eksternal bikin nilai tukar rupiah Melemah terhadap dolar AS. REUTERS/Willy Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah berakhir melemah tipis pada perdagangan hari ini, Rabu 5 September 2018, meskipun sempat dibuka menguat. 

    Nilai tukar tukar rupiah ditutup melemah 3 poin atau 0,02% ke level Rp14.938 per dolar AS, meskipun pada awal perdagangan dibuka di zona hijau dengan penguatn 0,06% di posisi Rp14.826.

    Baca juga: Rupiah Melemah, Rini Soemarno Siapkan Sejumlah Langkah

     

    Mata uang Garuda telah melemah pada perdagangan hari ketujuh berturut-turut. Pada perdagangan kemarin, Selasa 4 September 2018, rupiah ditutup merosot 0,81% atau 120 poin ke level Rp14.935 per dolar AS.

    “Meskipun dibuka menguat pagi ini, tetapi penguatan yang terjadi hanya sedikit ini masih menggambarkan bahwa rupiah masih berada dalam tekanan, dengan semakin mendekati level psikologis 15.000,” ujar Deddy Yusuf Siregar, analis Asia Trade Point Futures (ATPF) dalam laporan resminya, Rabu 5 September 2018.

    “Pasar global khawatir terhadap dampak krisis Turki dan Argentina kepada negara-negara berkembang serta perang dagang yang kembali memanas, menjadi sentimen yang mampu terus mendorong penguatan dolar AS,” tambahnya.

    Indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, tercatat menguat 0,11% atau 0,109 poin ke level 95,548 pada pukul 17.03 WIB.

    Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS tidak hanya dialami Indonesia. Jebloknya nilai tukar mata uang juga disebut terjadi di sejumlah negara.

    "Ini faktor eksternal yang bertubi-tubi baik yang berkaitan dengan kenaikan suku bunga di AS, baik yang berkaitan dengan perang dagang AS dan China, baik yang berkaitan dengan krisis di Turki dan Argentina," kata Jokowi di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu 5 September 2018.

    Untuk mengantisipasi pelemahan rupiah, Presiden Jokowi mengatakan bahwa pemerintah sudah melakukan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, dan pelaku-pelaku usaha.

    Menurut dia, koordinasi yang kuat menjadi kunci agar berjalan segaris. "Dan kuncinya ada dua, di investasi yang harus meningkat dan ekspor yang harus meningkat juga, sehingga kita bisa menyelesaikan defisit transaksi berjalan. Kalau ini selesai, itu akan menyelesaikan semuanya," kata Jokowi.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).