Analis Jelaskan Dampak Krisis Turki ke Anjloknya IHSG

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA

    Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelemahan yang menimpa mata uang Turki, yaitu lira dinilai memberi dampak ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG yang pada pembukaan perdagangan berada di posisi 6014,73, di akhir perdagangan ditutup 5.861,24 atau melemah 215,92 poin (3,5 persen). Tercatat asing melakukan aksi jual sepanjang hari sebesar Rp 646,88 miliar.

    Baca: Rupiah Melemah, IHSG Sempat Jeblok ke Level 5.844,34

    Sedangkan rupiah menyentuh level baru, yaitu 14.602 terhadap dolar Amerika Serikat. Namun berdasar kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) rupiah berada di posisi 14.583 per dolar Amerika.

    Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menyatakan sentimen pelemahan lira yang disusul melemahnya rupiah membuat IHSG terkoreksi. Menurut dia, pasar cukup khawatir dengan situasi yang terjadi di Turki dimana pelemahan lira mencapai level terdalam, yaitu sekitar 16 persen. "Ketika lira (mata uang lainnya, kecuali dolar Amerika) melemah investor memindahkan asetnya ke yang lebih tidak beresiko," kata dia, Senin 13 Agustus 2018.

    Senada, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan faktor global dan domestic memiliki andil dalam anjloknya IHSG hari ini. Faktor global yang mempengaruhi salah satunya ialah karena krisis keuangan Turki dengan turunnya Lira hingga 40 persen year to date (ytd).

    “Krisis Turki diprediksi akan menyebabkan spillover effect ke Eropa dan negara berkembang lainnya,” kata dia. Bhima menjelaskan kondisi pasar modal ikut diperparah sanksi dari Amerika Serikat (AS) berupa kenaikan bea masuk aluminium asal Turki. “Dampaknya aset emerging market agak dihindari. Investor global memborong dolar dan Treasury bond sebagai pelarian atau flight to quality ke aset yang lebih aman,” ujarnya.

    Sementara itu sentimen negatif dari dalam dipengaruhi defisit transaksi berjalan yang menembus 3 persen terhadap PDB di kuartal II 2018. Menurut Bhma defisit transaksi berjalan berpotensi melebar di kuartal III dan kuartal IV akibat naiknya biaya kebutuhan impor, pembayaran utang jatuh tempo dan realisasi proyek infrastruktur yg menyedot bahan baku impor.

    “Respon BI dalam menghadapi rupiah jg masih andalkan cadev. Jadi hasil RDG BI proyeksinya akan pertahankan 7 days repo di level 5,25 persen. Tidak ada surprise dari BI sehingga ekspektasi pasar cenderung menahan diri,” tutur dia.

    Baca: OJK Jelaskan Penyebab Pelemahan IHSG di Triwulan II 2018

    Sementara hasil pendaftaran capres dan cawapres masih ditanggapi ditanggapi beragam. Pasar khususnya investor asing, kata Bhima, kaget Jokowi memilih Ma’ruf amin yang dinilai belum kompeten menyelesaikan masalah ekonomi. Sementara visi misi Prabowo- Sandiaga dinilai masih abstrak. “Ini membuat IHSG lebih ditopang investor domestik, sementara investor asing dalam 1 minggu terakhir membukukan penjualan bersih Rp 733 miliar.”

    ADITYA BUDIMAN | MUHAMMAD HENDARTYO | KARTIKA ANGGRAENI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.