Senin, 22 Oktober 2018

Jokowi Minta Menterinya Serius: Negara Ini Sedang Butuh Dolar

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi menyerahkan 3.331 sertifikat tanah kepada warga Kabupaten Jayapura di Lapangan Kantor Bupati Jayapura, Papua, 11 April 2018. Kepada para penerima sertifikat, Presiden berpesan untuk menjaga sertifikat yang dimiliki di tempat yang aman. Biro Pers Setpres

    Presiden Jokowi menyerahkan 3.331 sertifikat tanah kepada warga Kabupaten Jayapura di Lapangan Kantor Bupati Jayapura, Papua, 11 April 2018. Kepada para penerima sertifikat, Presiden berpesan untuk menjaga sertifikat yang dimiliki di tempat yang aman. Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Bogor - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyebutkan, saat ini, pemerintah melihat cadangan devisa perlu segera dikuatkan agar perekonomian lebih tahan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Salah satunya dengan mendatangkan dolar sebanyak-banyaknya ke Indonesia.

    Baca: Jokowi Putuskan Tak Ubah Skema DMO Batu Bara

    "Situasi negara saat ini butuh dolar. Karena itu, saya minta seluruh kementerian dan lembaga serius, tidak ada main-main menghadapi ini. Saya enggak mau lagi bolak-balik rapat, tapi implementasi enggak berjalan baik," ujar Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa, 31 Juli 2018.

    Rapat tersebut merupakan kelanjutan pembahasan strategi meningkatkan cadangan devisa yang telah dilakukan sebelumnya. Penguatan cadangan devisa ini, menurut Jokowi, bisa dilakukan dengan dua hal. "Saya minta dua hal utama yang perlu diperhatikan, yaitu pengendalian impor dan peningkatan ekspor," katanya.

    Baca: Jokowi Sebut RI Kekurangan Bendungan, AS dan Cina Jadi Pembanding

    Untuk mendorong hal tersebut, Jokowi meminta segera ada implementasi terkait dengan kebijakan mandatori pemakaian biodiesel. Sebab, berdasarkan perhitungannya, penghematannya cukup signifikan. Tak hanya itu, Jokowi ingin mengevaluasi detail impor barang supaya dapat segera diklasifikasikan mana impor yang strategis dan tidak strategis. "Kita setop dulu (impor) atau kurangi atau hentikan," ucapnya.

    Tak hanya itu, Jokowi menyinggung soal urgensi percepatan implementasi tingkat kandungan dalam negeri dan pertumbuhan industri barang substitusi impor. Hal ini mutlak dilakukan guna menekan laju impor di Tanah Air. Khusus untuk ekspor, Jokowi menegaskan Indonesia harus memiliki strategi detail produk-produk yang harus diperkuat dan fokus melihat kendala eksportir di negara tujuan.

    Sebelumnya, Bank Indonesia menyebutkan cadangan devisa Indonesia per April 2018 tercatat US$ 124,9 miliar, turun dari capaian Maret 2018 sebesar US$ 126 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

    Penurunan cadangan devisa pada April 2018 itu terutama dipengaruhi penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, cadangan devisa jeblok karena stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

    Simak berita menarik lain terkait dengan Jokowi hanya di Tempo.co. 

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.