Dua Hal Ini Sumbang Kerugian Garuda Indonesia

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Boeing 747-400 milik  PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang berhenti beroperasi, di Cengkareng, Banten, 9 Oktober 2017. Pesawat ini telah dioperasikan sejak 23 tahun lalu. Tempo/Vindry Florentin

    Pesawat Boeing 747-400 milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang berhenti beroperasi, di Cengkareng, Banten, 9 Oktober 2017. Pesawat ini telah dioperasikan sejak 23 tahun lalu. Tempo/Vindry Florentin

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk lagi-lagi mencatatkan kerugian sebesar US$ 114 juta atau sekitar Rp 1,65 triliun pada Semester I 2018. Nilai tukar rupiah yang terus melemah dan kenaikan harga avtur menjadi salah satu penyebab besar dari kerugian ini.

    Baca: Garuda Indonesia Buka Lowongan Awak Kabin Hingga Kapten Pilot

    "Beban fuel yang meningkat sangat signifikan juga sangat berpengaruh," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala Mansury dalam konferensi pers di Kantor Garuda Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 30 Juli 2018. "Tapi sejauh mana, kami enggak bisa sampaikan."

    Baca: Garuda Indonesia Ingin Buka 3 Rute Baru dari Kupang

    Kenaikan nilai tukar rupiah yang dalam seminggu terakhir sempat mencapai Rp 14.500 per dollar Amerika Serikat otomatis melambungkan harga avtur. Dari situs Pertamina Aviation, harganya saat ini dibanderol sebesar Rp 8.740 per liter di Bandara Soekarno-Hatta, Tengerang atau naik tipis dari Februari 2018 yang masih di harga Rp 8.300 per liter.

    Sebelumnya dalam konferensi pers hari ini, Garuda Indonesia diketahui kembali merugi. Namun, kerugian pada Semester I 2018 ini sudah membaik jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017 yang mencapai US$ 284 juta atau sekitar Rp 4,11 triliun. "Perseroan berhasil menekan kerugian hingga 60 persen," kata Pahala.

    Menurut Pahala, kerugian ini bisa ditekan karena Garuda bisa mencatatkan pertumbuhan sebesar US$ 1,9 miliar atau sekitar 5,9 persen pada pendapatan operasional. Sementara pengeluaran operasional bisa dipertahankan sehingga hanya tumbuh tipis sebesar 0,3 persen atau senilai US$ 2,1 miliar.

    Tapi, biaya untuk bahan bakar masih menjadi komponen yang cukup tinggi yaitu sebesar US$ 639,7 juta atau naik 12 persen year-on-year/yoy. Nilai mencapai 30 persen dari seluruh pengeluaran atau naik dari tahun sebelumnya yang baru mencapai US$ 572 juta atau 27 persen.

    Pahala mengatakan, kenaikan harga avtur akibat pelemahan rupiah ini menjadi berpengaruh karena 65 persen dari bisnis perusahaan masih terpusat di dalam negeri. Tapi dengan membaiknya kinerja perusahaan, kata Pahala, Garuda Indonesia akan mencoba menutupinya dengan menurunkan sejumlah biaya untuk pengeluaran lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.