Kerugian Garuda Indonesia Turun Jadi Rp 1,65 Triliun

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Boeing 747-400 milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang berhenti beroperasi, di Cengkareng, 9 Oktober 2017. Setelah berorasi sejak 1994, pesawat ini telah terbang selama 89.900 jam terbang dan 15512 flight cycle. Tempo/Vindry Florentin

    Pesawat Boeing 747-400 milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. yang berhenti beroperasi, di Cengkareng, 9 Oktober 2017. Setelah berorasi sejak 1994, pesawat ini telah terbang selama 89.900 jam terbang dan 15512 flight cycle. Tempo/Vindry Florentin

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk kembali mencatatkan kerugian dalam sebesar US$ 114 juta atau sekitar Rp 1,65 triliun pada Semester I 2018. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah kerugian Garuda Indonesia turun yaitu dari US$ 284 juta atau sekitar Rp 4,11 triliun.

    Baca: Garuda Indonesia Buka Lowongan Awak Kabin Hingga Kapten Pilot

    "Perseroan berhasil menekan kerugian hingga 60 persen," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansyuri dalam konferensi pers di Kantor Garuda Indonesia, Jakarta Pusat, Senin, 30 Juli 2018. "Ini jadi momentum bagi perseroan untuk meningkatkan kinerja operasional perusahaan."

    Baca: Garuda Indonesia Ingin Buka 3 Rute Baru dari Kupang

    Menurut Pahala, kerugian bisa ditekan karena Garuda mencatatkan pertumbuhan sebesar US$ 1,9 miliar atau sekitar 5,9 persen pada pendapatan operasional. Nilai ini lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang hanya sekitar US$ 1,8 miliar.

    Pendapatan operasional ini disumbangkan oleh pendapatan dari EBITDAR atau Pendapatan perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi sebesar US$ 488 juta (naik 29,5 persen secara year-on-year/yoy), lalu layanan penerbangan sebesar US$ 1,7 miliar (naik 4,1 persen yoy). Sementara layanan non-penerbangan hanya menyumbang US$ 32,2 juta (turun 30,6 persen).

    Pahala mengatakan, kerugian ini juga berhasil ditekan karena sejumlah aspek pada kinerja operasional bisa membaik. Di antaranya yaitu peningkatan jumlah penumpang, peningkatan angkutan kargo, peningkatan utilisasi pesawat, hingga peningkatan kinerja anak perusahaan. "Ini juga karena kami melakukan restrukturisasi pada sejumlah rute penerbangan," ujarnya.

    Sementara pengeluaran operasional bisa dipertahankan sehingga hanya tumbuh tipis sebesar 0,3 persen atau senilai US$ 2,1 miliar. Pengeluaran untuk biaya bahan bakar masih menjadi komponen yang cukup tinggi yaitu sebesar US$ 639,7 juta (naik 12 persen yoy). Sementara pengeluaran Garuda Indonesia untuk rental pesawat bisa dipertahankan di angka US$ 517 juta seperti periode yang sama tahun lalu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.