BI Sarankan Proyek Infrastruktur yang Banyak Impor Ditunda

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lalu lintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampet KM 41 menjelang arus mudik 2018. Seluruh pekerjaan infrastruktur di ruas tol Jakarta-Cikampek akan dihentikan sementara mulai H-10 hingga H+10 pada Jumat 1 Juni 2018. TEMPO/Wawan Priyanto.

    Lalu lintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampet KM 41 menjelang arus mudik 2018. Seluruh pekerjaan infrastruktur di ruas tol Jakarta-Cikampek akan dihentikan sementara mulai H-10 hingga H+10 pada Jumat 1 Juni 2018. TEMPO/Wawan Priyanto.

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia menilai rencana pemerintah menunda sejumlah proyek infrastruktur adalah langkah yang tepat untuk menahan akselerasi impor. "Bagus kalau lebih selektif melihat mana proyek yang punya kandungan impor besar bisa sedikit ditunda," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Ahad, 29 Juli 2018.

    Baca: Tol Bocimi Segera Beroperasi, Dikelola Anak Usaha Jasa Marga

    Mirza mengatakan neraca perdagangan Indonesia seringkali defisit. Sebab selama ini pertumbuhan impor Indonesia masih lebih besar ketimbang angka ekspor.

    Apalagi belakangan Indonesia sedang mendorong pembangunan infrastruktur. Walau begitu, dia menilai infrastruktur itu memang penting untuk pembangunan ekonomi di masa depan.

    "Penting untuk membangun infrastrukur seperti bandara, pelabuhan, jalan, bendungan, dan sebagainya. Memang dalam jangka pendek menyebabkan defisit neraca berjalan melebar," kata Mirza.

    Untuk itu, Mirza mengatakan pemerintah mesti bisa melihat skala prioritas dari proyek infrastruktur tersebut. "Mana yang punya kadar import yang tinggi mungkin bisa sedikit ditunda dan mungkin nanti bisa dilanjutkan lagi."

    Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyoroti besarnya defisit neraca transaksi berjalan Indonesia yang kemungkinan menyentuh angka US$ 25 miliar pada 2018. Angka tersebut jauh lebih tinggi ketimbang tahun lalu sebesar US$ 17,5 miliar. "Terus terang ini berat, tekornya tambah gede," ujar Perry.

    Sebenarnya tingkat ekspor Indonesia, kata Perry, sudah cukup baik. Tapi di sisi lain, kenaikan impor juga lebih besar. Sehingga defisit transaksi berjalan tahun ini bakal lebih besar.

    Masalahnya, Perry menyebut adanya gonjang-ganjing global, perang dagang, sampai kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat beberapa kali menyebabkan devisa yang masuk dalam bentuk investasi portopolio menjadi sangat rendah.

    Pada tahun lalu, pembiayaan dari kekurangan devisa di samping penyertaan modal asing yang cukup baik, yaitu US$ 17 miliar, arus modal asing dalam bentuk pembelian surat berharga dan saham itu cukup besar.

    Sehingga pengendalian defisit transaksi berjalan menjadi pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan, di samping peningkatan produksi sektor pertanian, infrastruktur, mengurangi kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.