Digitalisasi Pertanian Ditargetkan Tingkatkan Produksi 20 Persen

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ibu-ibu berbelanja di bahan kebutuhan pokok murah di Toko Tani Kementerian Pertanian di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu Jakarta Selatan, Senin, 11 Juni 2018. Tempo/Fajar Pebrianto

    Ibu-ibu berbelanja di bahan kebutuhan pokok murah di Toko Tani Kementerian Pertanian di Jalan Raya Ragunan, Pasar Minggu Jakarta Selatan, Senin, 11 Juni 2018. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara bersama dengan sejumlah perusahaan pelat merah mengembangkan program kewirausahaan pertanian dan digitalisasi pertanian. Sistem digital yang tengah dikembangkan PT Telkom Indonesia, Logistik Pertanian alias Logtan, diharapkan bisa membantu para petani sejak masa pra penanaman, masa penanaman, masa panen, hingga pasca panen.

    Direktur Utama PT Pertani Wahyu mengatakan dengan adanya sistem tersebut, petani akan terbantu dan terjadwal. Selain itu, dengan data yang telah terhimpun dalam aplikasi logtan, mulai dari profil petani sampai status lahan petani, bisa memudahkan BUMDes menyalurkan subsidi kepada petani baik benih maupun pupuk.

    Dengan demikian, Wahyu menilai dengan semakin efektif dan efisiennya pertanian di Indonesia, maka produksinya akan meningkat disertai dengan kenaikan pendapatan petani. "Kami menargetkan peningkatan produksi minimal 20 persen,"ujar Wahyu, Senin 9 Juli 2018.

    Baca: Taiwan Akan Kembangkan Zona Pertanian 1.000 Hektare di Indonesia

    Program ini direncanakan diimplementasikan di sembilan kabupaten di Jawa Barat, yaitu Indramayu, Karawang, Purwakarta, Majalengka, Sumedang, Cianjur, Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya. Perusahaan yang terlibat dalam proyek ini antara lain PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Pupuk Indonesia (Persero), Bank BTN, Bank BNI, Bank BRI, Bank Mandiri, Perum Bulog, RNI, Askrindo, Jasindo, Pertani, Sang Hyang Seri, Pegadaian, Permodalan Nasional Madani (PNM), Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan Mitra BUMDes Bersama (MBB).

    Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro menerangkan bahwa program kewirausahaan dan digitalisasi pertanian ini dapat meningkatkan posisi para petani, dari hanya sebagai penggarap lahan yang tidak memiliki akses pasar dan kendali pada harga produksi, menjadi pemilik bersama atas entitas bisnis dengan model bisnis yang memberikan keuntungan maksimal bagi para petani. 

    "Sejauh ini, tahap-tahap awal yang menjadi kunci program Kewirausahaan Pertanian telah diwujudkan dalam bentuk piloting berupa entitas-entitas bisnis PT Mitra BUMDES Bersama (MBB) berbasis kerjasama komunitas di sebelas kecamatan dalam sembilan kabupaten,” kata Wahyu Kuncoro.

    Pada awal Juni 2018 lalu, program ini telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tercatat, lebih dari 7 ribu petani di Sliyeg telah dilibatkan dalam program ini.

    Untuk memungkinkan penyerapan beras petani dengan harga yang baik, MBB Sliyeg telah membangun Sentra Pengolahan Beras Terpadu (SPBT) Sliyeg di desa Majasari lengkap dengan mesin pengering berkapasitas 30 ton per siklus, mesin penggiling berkapasitas 3 ton gabah per jam dan mesin pengemasan berkapasitas 4 ton beras per jam.

    Wahyu Kuncoro berujar proses edukasi dan sosialisasi sistem digital pertanian akan terus dilakukan dengan baik hingga September 2018 mendatang. Kemudian pada Oktober dan November diharapkan proses pengalihan pola petani menjual gabah menjadi petani menjual beras sudah bisa terjadi pada panen raya di Sliyeg.

    Sehingga akhirnya pada 2019, perluasan program Kewirausahaan Pertanian dan Digitalisasi Sistem Pertanian sudah bisa diimplementasikan ke seluruh kabupaten di Indonesia.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.