Senin, 20 Agustus 2018

Neraca Perdagangan Terus Menerus Defisit, Ekonom Usulkan Ini

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Neraca Perdagangan Juli 2017 Defisit

    Neraca Perdagangan Juli 2017 Defisit

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pemerintah perlu lebih memberikan kemudahan pada industri pengolahan untuk mengatasi defisit neraca perdagangan. Hal tersebut bertujuan untuk mendorong ekspor.
     
    Josua menilai pemerintah perlu memberikan insentif bagi pelaku usaha atau industri yang berorientasi ekspor khususnya ekspor produk manufaktur yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan ekspor komoditas mentah. 
     
    "Dengan memberikan kemudahan berusaha, percepatan perizinan yang nyata bagi investasi di industri pengolahan diharapkan akan mendorong minat investor sehingga dapat mendorong peningkatan ekspor," kata Josua saat dihubungi, Rabu, 27 Juni 2018.
     
     
    Menurut Josua untuk meningkatkan ekspor, industri pengolahan kelapa sawit perlu didorong mengingat produk turunan dari kelapa sawit sangat banyak. "Sementara industri permesinan, baja juga perlu didorong untuk mengurangi ketergantungan impor," ujar Josua. 
     
    Pada 25 Mei, Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat neraca perdagangan pada Mei 2018 kembali mengalami defisit sebesar US$ 1,52 miliar. Naiknya harga minyak dunia membuat impor minyak dan gas semakin meningkat sehingga membuat neraca perdagangan kembali tertekan.
     

    "Impor melonjak tinggi karena kenaikan harga minyak dan gas, padahal ekspor sih sudah lumayan baik," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantornya. "Harga minyak dunia naik membuat impor melonjak tajam."

    BPS mencatat nilai impor Indonesia selama Mei 2018 mencapai US$ 17,64 miliar atau meningkat 9,17 persen dibandingkan dengan April 2018. Komposisi kenaikan terbesar memang disumbang oleh impor migas yang naik hingga 20,95 persen atau jauh melampaui kenaikan impor nonmigas sebesar 7,19 persen.

    Baca: Neraca Perdagangan Defisit, Ini Perhitungan BPS

    Bulan Mei 2018 ini, nilai impor nonmigas berada di angka US$ 14,82 miliar. Sementara, nilai ekspor tumbuh lebih rendah yaitu US$ 16,12 miliar atau meningkat 10,90 persen dibanding April 2018. Performa ekspor masih cukup lebih baik karena sektor nonmigas menyumbang pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 28,8 persen. Sementara ekspor migas tumbuh 9,25 persen. "Jadi kami melihat ekspor bulan Mei ini cukup mengembirakan," ujar Suhariyanto.

    Lebih lanjut Josua mengatakan dengan mendorong industri pengolahan akan dapat juga mengurangi ketergantungan impor bahan baku dari luar negeri.

    "Sehingga dapat mendukung surplus neraca perdagangan serta memperkecil defisit transaksi berjalan," ujar Josua.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    INFO Atlet Andalan Indonesia di Asian Games 2018

    Inilah atlet-atlet andalan Indonesia di Asian Games 2018