CEO Facebook Janji Blokir Ujaran Kebencian di Myanmar

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO Facebook Mark Zuckerberg tiba untuk bersaksi di depan sidang bersama Komite Perdagangan dan Energi dari Dewan Perwakilan Rakyat AS, di Capitol Hill di Washington, 10 April 2018.  Mark Zuckerberg menyatakan penyesalannya karena mengizinkan aplikasi pihak ketiga untuk mengambil data dari para pengguna Facebook tanpa izin mereka. (AP Photo/Carolyn Kaster)

    CEO Facebook Mark Zuckerberg tiba untuk bersaksi di depan sidang bersama Komite Perdagangan dan Energi dari Dewan Perwakilan Rakyat AS, di Capitol Hill di Washington, 10 April 2018. Mark Zuckerberg menyatakan penyesalannya karena mengizinkan aplikasi pihak ketiga untuk mengambil data dari para pengguna Facebook tanpa izin mereka. (AP Photo/Carolyn Kaster)

    TEMPO.CO, Jakarta - CEO Facebook Mark Zuckerberg berjanji akan meningkatkan upaya pemblokiran ujaran kebencian di Myanmar yang diunggah di media sosial itu. Hal ini dilakukan merespons besarnya sorotan dunia mengenai penyalahgunaan data pengguna Facebook.

    Zuckerberg menyebutkan pihaknya telah menggunakan jasa orang-orang lokal Myanmar dan mereka yang berbicara dalam bahasa Burma sebagai salah satu strategi pemblokiran ujaran kebencian tersebut. "Apa yang terjadi di Myanmar adalah tragedi yang mengerikan dan kita harus melakukan lebih banyak," ujarnya dalam dengar pendapat dengan Kongres Amerika Serikat, seperti dikutip Reuters, Selasa, 10 April 2018, waktu setempat.

    Baca: Data Facebook Bocor, Mark Zuckerberg Minta Maaf

    Selain itu, Facebook bekerja sama dengan kelompok sipil untuk membantu identifikasi pihak-pihak yang harus diblokir dari media sosial tersebut. Zuckerberg menuturkan Facebook akan melakukan perubahan khusus di Myanmar dan negara-negara lain yang mengalami masalah kekerasan etnis.

    Sebelumnya, hasil penyelidikan PBB menyebutkan Facebook menjadi alat propaganda melawan warga etnis Rohingya di negara Asia Tenggara itu. Kepala Tim Pencari Fakta Myanmar PBB Marzuki Darusman menuturkan Facebook memiliki peran yang cukup besar.

    Facebook, kata Marzuki, berkontribusi secara substantif terhadap terjadinya konflik di masyarakat. Ujaran kebencian adalah salah satunya. "Sejauh ini, di Myanmar, media sosial adalah Facebook dan Facebook adalah media sosial," ucapnya. Sejak Agustus 2017, lebih dari 650 ribu muslim Rohingya meninggalkan Myanmar dan menyelamatkan diri ke Bangladesh karena khawatir menjadi korban kekerasan.

    Adapun Zuckerberg dipanggil Kongres terkait dengan kebocoran data 87 juta pengguna Facebook, yang sebagian besar berada di AS, kemungkinan telah dibagikan secara tidak patut kepada Cambridge Analytica. Perusahaan konsultan media itu membantu tim kampanye Donald Trump dalam pilpres AS pada 2016.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Umumkkan 9 Partai yang Lolos ke Parlemen dalam Pemilu 2019

    Komisi Pemilihan Umum menyatakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan anggota legislatif di pemilu 2019.